skip to main | skip to sidebar

risnasari

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Sabtu, 27 April 2013

makalah tafsir (3)

Diposting oleh Unknown di 05.03


 (TAFSIR DAN ASBABUN NUZUL

SURAT AL-LUQMAN)

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan diyakini sebagai kunci pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia. Namun, pendidikan kita mengalami proses “dehumanisasi”. Dikatakan demikian karena pendidikan mengalami proses kemunduran dengan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya. Realitas proses pembelajaran yang terjadi di sekolah-sekolah selama ini hamper  tidak memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis mereka. Peserta didik masih saja menjadi obyek. Mereka diposisikan sebagai orang yang tertindas, orang yang tidak tahu apa-apa, orang yang harus dikasihani, oleh karenanya harus dijejali dan disuapi. Setiap hari indoktrinasi dan brainwashing terus saja terjadi terhadap anak-anak. Anak-anak terus saja dianggap sebagai bejana kosong yang siap dijejali aneka bahan dan kepentingan demi keuntungan semata. Anak-anak dipasung kebebasannya, tidak lagi dilihat sebagai anak (lebih-lebih di pendidikan dasar), tetapi sebagai robot, beo, dan kader politik mini yang hanya tahu melaksanakan perintah ”tuan”nya.
            Seorang guru adalah seorang pendidik. Pendidik ialah “orang yang memikul tanggung jawab untuk membimbing”.(Ramayulis,1982:42) Pendidik tidak sama dengan pengajar, sebab pengajar itu hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran kepada murid. Prestasi yang tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang pengajar apabila ia berhasil membuat pelajar memahami dan menguasai materi pengajaran yang diajarkan kepadanya. Tetapi seorang pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pengajaran kepada murid saja tetapi juga membentuk kepribadian seorang anak didik bernilai tinggi.
Pendidikan diyakini sebagai kunci pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia. Namun, pendidikan kita mengalami proses “dehumanisasi”. Dikatakan demikian karena pendidikan mengalami proses kemunduran dengan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya. Dan didalam filsafat terdapat berbagai mazhab/aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-kurnagnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri.
Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar.

  1. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah digunakan untuk membatasi masalah yang akan dibahas. Dalam penelitian ini, masalah dibatasi pada pengertian tafsir, filsafat pendidikan dalam al qur’an, tujuan  pendidikan dalam al qur’an, pendidikan sebagai proses humanisasi, dan sifat sifat pendidik yang baik.

  1. Perumusan Masalah
Dalam makalah ini terdapat beberapa penjabaran materi dari latar belakang diatas. Diantaranya yaitu:
1.      Bagaimana pengertian tafsir ?
2.      Bagaimana filsafat pendidikan dalam al qur’an ?
3.      Bagaimana tujuan  pendidikan dalam al qur’an ?
4.      Bagaimana pendidikan sebagai proses humanisasi ?
5.      Bagaimana sifat sifat pendidik yang baik ?

  1. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui pengertian tafsir.
2.      Untuk mengetahui filsafat pendidikan dalam al qur’an.
3.      Untuk mengetahui tujuan  pendidikan dalam al qur’an.
4.      Untuk mengetahui pendidikan sebagai proses humanisasi.
5.      Untuk mengetahui sifat sifat pendidik yang baik.


BAB II
PEMBAHASAN

  1. Pengertian Tafsir
                Secara lughot, Tafsir ialah menerangkan dan menyatakan, sedangkan secara istilah Tafsir ialah mensyarahkan lafadh yang sukar dipahamkan oleh pendengar dengan uraian yang menjelaskan maksud.
Surat al-Luqman 13
وﺍذ قال لقمان لأبنه وهو يعظه يا بني لا تشرك با لله إ ن الشرك لظلم عظيم
Artinya:  Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasehat kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar 
kezaliman yang besar.
Di dalam surat ini Allah memberikan pelajaran kepada kita akan kesholehan Luqman dalam memberikan nasehat kepada anaknya, yakni nasehat yang mengandung unsur “keilmuan” yang mendalam, “keihklasan” yang suci dan “kecintaan”yang tinggi. Luqman adalah sosok ayah pilihan Allah. Nasehat yang disampaikan pada anaknya diabadikan dalam Al Qur'an. Ketika kita membaca Q.S Luqman ayat 13 disitu dimulai dengan hentakan kata " Ingatlah tatkala ". Kata ini menandakan pentingnya atas nasehat yang akan disampaikan.
Luqman bernama lengkap 'Luqman Bin Anqa' Bin Sadun" Anak yang dinasehati bernama Taran, mereka penduduk  biasa dari Habasyah ( Ethiopia ). Dalam sebuat kitab tafsir diceritakan bahwa Luqman adalah seorang budak, ciri-ciri tubuhnya sama seperti orang Ethiopia lainya yang kebanyakan berkulit hitam legam dan berbibir tebal. Tetapi Allah tak pernah melihat dari bentuk fisik . Hati Luqman memancarkan cahaya iman dan keagungan seorang manusia. Kejernihan hidup tergambar dibalik rendah martabatnya sebagai budak. Sebenarnya nasehat Luqman yang terdapat dalam Al Qur'an itu hanyalah nasehat kepada anaknya sendiri. Tetapi Allah mengabadikan dalam Al Qur'an agar setiap umat belajar dari apa yang dilakukan Luqman. Karena nasehat pada anak adalah sangat penting untuk membentuk karakter dan perwatakan sebagai bekal kehidupan kelak. Anak adalah amanah titipan Allah, sudah selayaknya hanya kita didik sesuai ketentuan dari yang menitipkannya yaitu Allah SWT. Oleh karena itu penting bagi kita mempelajari apa yang Allah kehendaki bukan sekedar apa yang kita mau. Anak yang sholeh adalah permata dan cahaya mata bagi orang tuanya di dunia dan akherat.
Asbabun Nuzul Surat Al-Luqman ayat 13. Ketika ayat ke-82 dari surat Al-An’am diturunkan,para sahabat merasa keberatan. Maka mereka datang menghadap Rasulullah SAW,seraya berkata “ Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami yang dapat membersihkan keimanannya dari perbuatan zalim ?”.Jawab beliau “ Bukan begitu,bukanlah kamu telah mendengarkan wasiat Lukman Hakim kepada anaknya : Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar. Sesudah Allah menurunkan apa yang telah diwariskan oleh luqman terhadap anaknya,yaitu supaya ia bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan semua nikmat,yang tiada seorang pun bersekutu denganNya, didalam menciptakan sesuatu. Kemudian luqman menegaskan bahwasanya syirik itu adalah perbuatan yang buruk.Kemudian Alla SWT mengiringi hal tersebut dengan wasiat-Nya kepada semua anak ,supaya mereka berbuat baik kepada kedua orang tuanya, karena sesungguhnya kedua orang tua adalah penyebab pertama bagi keberadaan kita di muka bumi ini.
  1. Filsafat Pendidikan
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.[1]
Filsafat juga memilki pengertian dari segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau pengertian dari segi praktis. Selanjutnya bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim digunakan dalam praktek pendidikan. Dalam hubungan ini dijumpai berbagai rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan:
1.      Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar.
2.      Ada pendidik, pembimbing atau penolong.
3.      Ada yang di didik atau si terdidik.
4.      Adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut.
5.      Ada alat-alat yang dipergunakan.

Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia :
1.      Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya.
2.      Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya.
3.      Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya.
  1. Tujuan Pendidikan
Menurut yang tercantum di dalam al-Qur’an, tujuan pendidikan Islam antara lain:
1.      Mewujudkan manusia yang taqwa dan banyak beramal shaleh.
2.      Agar manusia mempercayai akan keberadaan Allah.
3.      Mewujudkan manusia yang percaya akan hari akhir.
4.      Mewujudkan kesuksesan dalam hidup.
Pendidikan sebagaimana pengertiannya yang disebutkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas adalah "usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara".
Pendidikan yang dimaksud dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas di atas adalah pendidikan yang mengarah pada pembentukan manusia yang berkualitas atau manusia seutuhnya yang lebih dikenal dengan istilah insan kamil. Untuk menuju terciptanya insan kamil di atas, maka pendidikan yang dikembangkan menurut Mendiknas (2006: xix) adalah pendidikan yang memiliki empat segi yaitu : olah kalbu, olah pikir, olah rasa, dan olah raga

  1. Pendidikan Sebagai Humanisasi (Otokritik Kehidupan)
Pendidikan adalah “humanisasi”, yaitu sebagai media dan proses pembimbingan manusia muda menjadi dewasa, menjadi lebih manusiawi (“humanior”). Melalui pendidikan yang humanis diharapkan anak memiliki pemahaman atas nilai-nilai dirinya sebagai manusia, terhadap diri sendiri, manusia lain, lingkungan, alam semesta dan Sang Pencipta.
Proses Humanisasi artinya proses menjadikan manusia sebagai manusia sesuai dengan kodratnya sebagai manusia. Dan yang dimaksudkan pendidikan sebagai proses humanisasi adalah berfokus pada peserta-didik, yaitu yang menghargai keragaman karakteristik mereka, berusaha mengembangkan potensi masing-masing dari mereka secara optimal, mengembangkan kecakapan hidup untuk dapat hidup selaras dengan kondisi pribadi dan lingkungan, memberikan bantuan untuk mengatasi kesulitan pribadi termasuk belajar, serta dengan menggunakan berbagai cara untuk mengetahui dan menilai kemajuan belajar mereka masing-masing. [2]
Menurut Ki Hajar Dewantara (1889 - 1959) seorang tokoh pendidikan Indonesia yang memprakarsai berdirinya lembaga pendidikan Taman Siswa. Dia lebih terkenal dengan filsafat pendidikannya “tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung tulada”. Dewantara mengklasifikasikan tujuan pendidikan dengan istilah “tri-nga” (tiga “nga” - “nga” adalah huruf terakhir dalam abjad Jawa Ajisaka). “Nga” pertama adalah “ngerti” (memahami atau aspek intelektual), “nga” kedua “ngrasa” (merasakan atau aspek afeksi), dan “nga” ketiga adalah “nglakoni” (mengerjakan atau aspek psikomotorik). Rumusan  ini  telah  dilakukan  sekitar 20  tahun  sebelum  Bloom  dkk.  merumuskan taksonomi  tujuan  pendidikan  yang  meliputi  aspek  kognitif,  afektif  dan  psikomotor. Menurut Dewantara, adalah   hak tiap orang untuk mengatur diri sendiri.

  1. Sifat sifat Pendidik yang Baik
Dilihat dari asfek kebahasaan kata “pendidik” merupakan hipernim yaitu kata yang memiliki makna lebih luas, sedangkan kata “guru” adalah salah satu hiponim yaitu kata yang memiliki makna sempit dari kata pendidik. Dengan kata lain guru adalah salah satu sebutan dari pendidik. Hal ini dapat kita pahami dari definisi pendidik berdasarkan UU RI No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas bahwa  Pendidik ialah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisifasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
Adapun guru berdasarkan UU RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, BAB II Pasal 2 ayat 1 bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Jadi, guru adalah sebutan bagi pendidik yang bertugas di jenjang pendidikan usia dini (TK), pendidikan dasar (SD, SMP) dan pendidikan menengah (SMA/SMK).
Sesuai dengan judul artikel di atas bahwa guru profesional harus memiliki sifat pendidik. Yang dimaksud pendidik pada artikel ini adalah singkatan dari : Persuasif, Edukatif, Normatif, Dedikatif, Ilmiah, Demokratis, Inovatif dan Kreatif. Untuk lebih jelasnya penulis mencoba memaparkan masing-masing sifat tersebut yang merupakan sebagian sifat atau karakter guru profesional.



BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep pendidikan menurut Al-Qur’an diarahkan pada upaya menolong anak didik agar dapat melaksanakan fungsinya mengabdi kepada Allah. Seluruh potensi yang dimiliki anak didik yaitu potensi intelektual, jiwa dan jasmani harus di bina secara terpadu dalam keselarasan, keserasian dan keseimbangan yang tergambar dalam sosok manusia seutuhnya.
 Dan mengajarkan peserta didik untuk selalu menghormati kedua orang tua, menjalankan perbuatan amar ma’ruf dan nahi munkar,serta mengajarkan peserta didik untuk menjalankan hubungan manusia dengan melakukan perbuatan baik, sikap dan perilaku dalam pergaulan, serta kesedehanaan dalam berkomunikasi dengan sesama.

  1. Saran
Dengan mempelajari tafsir selain bisa mengetahui apa itu tafsir, dan kita bisa mengetahui asbabun nuzul dari subuah ayat pendidikan agar nantinya peserta didik dapat menerapkan ajaran yang terkandung pada surat al-luqman dalam kehidupan sehari-hari, baik itu kepada Allah SWT, kedua orang tua, serta kepada manusia-manusia yang lain.


[1] Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam.  Bumi Aksara, Jakarta, hlm 223
[2] Moh baharudin. Pendidikan Humanistik (Konsep, Teori dan Aplikasi dalam Dunia Pendidikan), Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, hlm 13
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Blog Archive

  • ▼  2013 (27)
    • ▼  April (27)
      • makalah Ilmu Komunikasi.
      • makalah sejarah dakwah
      • makalah psikologi
      • makalah hadist
      • makalah komunikasi
      • komunikasi kontemporer
      • makalah ilmu dakwah
      • makalah dakwah abbasiyah
      • makalah bahsul kutub
      • tugas PROSES PENERBITAN PERS (ngliput berita)--> (5)
      • makalah proses penerbitan pers(5)
      • makalah Sistem Informasi Manajemen Dakwah (5)
      • makalah kewirausahaan(5)
      • kewirausahaan (PROPOSAL KERJA) --> (5)
      • makalah hukum dan etika media massa (5)
      • makalah filsafat dakwah --> tantangan dakwah (5)
      • makalah filsafat dakwah - at-tiin (5)
      • makalah Hadist (5)
      • makalah tafsir (4)
      • makalah sosiologi (4)
      • makalah Rijalud Dakwah (4)
      • makalah logika (4)
      • makalah kewarganegaraan (4)
      • makalah filsafat umum (4)
      • makalah psikologi dakwah (3)
      • makalah ushul fiqh (3)
      • makalah tafsir (3)
  • ►  2012 (2)
    • ►  November (2)

Followers

 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com