skip to main | skip to sidebar

risnasari

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Sabtu, 27 April 2013

makalah filsafat dakwah - at-tiin (5)

Diposting oleh Unknown di 06.13

TANTANGAN DAAM PARADIGM PENCIPTAAN MANUSIA
DIDALAM FILSAFAT DAKWAH (at-tiin)


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Islam dibawa oleh Nabi Muhammad ke muka bumi sejak 14 abad lalu adalah untuk memperkenalkan sebuah paradigma kehidupan yang berorientasi menjaga harkat dan martabat kemanusian, menyelamatkan, dan membahagiakan. Paradigma kehidupan dimaksudkan itu bersifat komprehensif atau menyeluruh, menyangkut keyakinan tentang ketuhanan, kemanusiaan, alam, serta bagaimana mendapatkan keselamatan hidup secara sempurna itu.
Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :
“Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah (32) : 7)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (QS. Al Hijr (15) : 26
Disamping itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalah surat Al Hijr ayat 28 dan 29 .
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al Hijr (15) : 28-29)
Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :
“Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah”. (HR. Bukhari)
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (Albaqarah:31)
“Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .” (Albaqarah:32)
“Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?” (Albaqarah:33)
“Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).” (Alanam:2)

B.     PEMBATASAN MASALAH
Pembatasan masalah digunakan untuk membatasi masalah yang akan dibahas. Dalam penelitian ini, masalah dibatasi pada kandungan surat at-tiin dalam paradigma penciptaan manusia.

C.    PERUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini terdapat beberapa penjabaran materi dari latar belakang diatas. Diantaranya yaitu:
  1. Bagaimana paradigma penciptaan manusia?
  2. Bagaimana penjelasan isi kandungan dari surat at-tiin?
  3. Bagaimana asbabun nuzulnya?

D.    TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui paradigma penciptaan manusia.
2.      Untuk mengetahui penjelasan isi kandungan dari surat at-tiin.
3.      Untuk mengetahui asbabun nuzulnya.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Paradigma Penciptaan Manusia
Islam dibawa oleh Nabi Muhammad ke muka bumi sejak 14 abad lalu adalah untuk memperkenalkan sebuah paradigma kehidupan yang berorientasi menjaga harkat dan martabat kemanusian, menyelamatkan, dan membahagiakan. Paradigma kehidupan dimaksudkan itu bersifat komprehensif atau menyeluruh, menyangkut keyakinan tentang ketuhanan, kemanusiaan, alam, serta bagaimana mendapatkan keselamatan hidup secara sempurna itu.
Al Qur’an sebagai sumber ajaran Islam mengajarkan tentang penciptaan. Baik penciptaan jagad raya maupun penciptaan manusia diperkenalkan melalui kitab suci ini. Bagaimana jagad raya dan demikkian pula manusia diciptakan dijelaskan melalui kitab suci ini. Bahkan fase-fase kehidupan manusia, sejak di dalam kandungan sang ibu hingga tatkala nanti meninggal dunia sampai kehidupan akherat digambarkan oleh al Qur’an. Ilmu pengetahuan dalam bentuk yang paling mutakhir pun belum mampu menjelaskan tentang ini. Konsep adanya langit lapis tujuh, perputaran bintang dan planit-planit lainnya diperkenalkan oleh Islam.[1]
Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :
“Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah (32) : 7)
“Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?” (Albaqarah:33).[2]

B.     Penjelasan Isi Kandungan Dari Surat At-Tiin
والتين والزيتون[3]
Demi Tin dan Zaitun[4]
( keduanya adalah nama buah, atau dapat jugam keduanya diartikan nama dua buah gunung yang menumbuhkan kedua buah tersebut ).
وطورسنين[5]
Dan demi bukit Sinai[6]
(nama sebuah bukit tempat sewaktu Allah swt. berfirman kepada Nabi Musa. Arti lafal Siiniina ialah yang diberkahi atau yang baik karena memiliki banyak pohon yang menghasilkan buah ).
وهذا لبلد الأمين[7]
Dan demi kota ini yang aman[8]
(yaitu kota Mekah, dinamakan kota aman karena orang-orang yang tinggal di dalamnya merasa aman, baik pada zaman jahiliah maupun di zaman Islam ).
لقد خلقنا الأنسان في احسن تقويم[9]
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.[10]
(artinya semua manusia (dalam bentuk yang sebaik-baiknya) artinya baik bentuk atau pun penampilannya amatlah baik ).


ثم رددنه اسفل سافلين[11]
kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.[12]
(maksudnya sebagian di antara mereka ungkapan ini merupakan kata kiasan bagi masa tua, karena jika usia telah lanjut kekuatan pun sudah mulai melemah dan pikun. Dengan demikian ia akan berkurang dalam beramal, berbeda dengan sewaktu masih muda; sekalipun demikian dalam hal mendapat pahala ia akan mendapat imbalan yang sama sebagaimana sewaktu ia beramal di kala masih muda, hal ini diungkapkan dalam firman selanjutnya, yaitu:  )
إلا الذين امنوا وعملوا الصالحت فلهم اجر ممنون[13]
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.[14]
( melainkan pahala yang tak pernah terputus. Di dalam sebuah hadis telah disebutkan, bahwa apabila orang mukmin mencapai usia tua hingga ia tidak mampu lagi untuk mengerjakan amal kebaikan, maka dituliskan baginya pahala amal kebaikan yang biasa ia kerjakan di masa mudanya dahulu )
فما يكذبك بعد بالدين[15]
Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?[16]
(hai orang kafir yakni sesudah hal-hal yang telah disebutkan tadi, yaitu mengenai penciptaan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian dijadikan-Nya tua dan pikun, yang hal ini menunjukkan kepada kekuasaan-Nya untuk membangkitkan makhluk hidup kembaliyang terlebih dahulu diawali dengan hari kebangkitan lalu perhitungan amal perbuatan. Maksudnya apakah gerangan yang mendorongmu mendustakan hal tersebut? Tentu saja tidak ada yang mendorongnya untuk mendustakan hal tersebut selain dirinya sendiri ).

اليس الله بأ حكم الحكمين[17]
Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya? [18]
(artinya Dia adalah hakim yang paling adil di antara hakim-hakim yang adil lainnya, dan keputusan-Nya berdasarkan sifat tersebut. Di dalam sebuah hadis disebutkan, "Barang siapa membaca surah At-Tiin hingga akhir surah, maka hendaknya sesudah itu ia menjawab, 'Balaa Wa Anaa 'Alaa Dzaalika Minasy Syaahidiina/tentu saja kami termasuk orang-orang yang menyaksikan akan hal tersebut ).

Penjelasan Ayat
At-Tiin termasuk surat makiyyah. Isi pokoknya menegaskan kedudukan umat manusia dan keadilan allah SWT. Manusia diciptakan sebagai makhluk terbaik dan termulia. Baik dalam bentuk jasmani maupun rohani. Tetapi mereka akan menjadi makhluk yang sangat hina manakala tidak beriman dan bertaqwa. Tidak beramal shaleh, malah meningkatkan kemaksiatan , melakukan kekafiran dan kedustaan sehingga merekalah tempat bersemayamnya. Yakni suatu tempat yang sangat hina lagi jelek. Sebaliknya manakala mereka beriman, bertakwa, melakukan amal shaleh dan menjauhi maksiat maka surga tempat tinggalnya. Berbagai fasilitas dan kebahagiaan tersedia disana. Sebagai balasan amal yang dilakukan didunia. Dan itulah balasan yang diberikan allah SWT. Kepada orang yang ingkar dan orang yang beriman. Sungguh jauh berbeda satu neraka, dan satu surga. Delapan ayat yang terkandung dalam surat at-tiin ini secara tegas telah mengetengahkan gambaran tentang insane beriman, insane yang ingkar kepada ajaran agama.[19]
Hakikat pokok yang dipaparkan surah ini adalah hakikat fitrah yang lurus yang allah menciptakan manusia atas fitrah ini. Istiqamah tabiatnya bersama tabiat iman, dan sampainya fitrah itu bersama iman kepada kesempurnaannya yang ditakdirkan untuknya. Hakikat tentang jatuhnya manusia dan kerendahannya ketika ia menyimpang dari fitrah yang benar dan iman yang lurus.
Allah bersumpah atas hakikat ini dengan tiin dan zaitun, gunung Sinai dan kota makkah yang aman. Sumpah ini, sebagaimana banyak kita jumpai dalam jus ini merupakan bingkai ini selaras dengan hakikat yang dikandungnya[20]
Dari ayat-ayat ini tampak bagaimana perhatian allah dalam menciptakan manusia didalam bentuk yang sebaik-baiknya. Memang allah SWT menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Tetap dikhususkan penyebutan manusia disini dan ditempat-tempat lain dalam alquran dengan susunan yang sebaik-baiknya. Hal ini menunjukkan perhatian yang lebih dari allah kepada makhluk yang bernama manusia.
Perhatian allah kepada manusia, meskipun pada diri mereka juga terdapat kelemahan dan ada kalanya penyimpangan dari fitrah dan kerusakan. Mengisyaratkan bahwa mereka memiliki urusan tersendiri disisi allah dan memiliki pertimbangan sendiri didalam system semesta. Perhatian ini tmpak didalam penciptaannya dan susunan tubuhnya yang bernilai dibandingkan dengan makhluk lain, baik dalam susunan fisiknya yang sangan cermat, dan rumit, susunan akalnya yang unik maupun susunan ruhnya yang menakjubkan.
Kemudian pembicaraan ini ditekankan pada khususiah ruhiahnya. Karena ialah yang menjadikannya jatuh ketempat yang serendah-rendahnya. Ketika menyimpang dari fitrah dan menyeleweng dari iman yang lurus. Karena sudah jelas bahwa wujud badaniahnya tidak akan menjatuhkannya kederajat yang serendah-rendahnya.
Didalam khususiah ruhiahnya ini, tampaklah keunggulan wujud manusia. Maka mereka diberi potensi untuk mencapai tingkatan yang tinggi melebihi kedudukan malaikat muqarrabin. Sebagaimana dibuktikan dengan adanya peristiwa isra’ mi’raj. Ketika itu malaikat jibril berhenti pada suatu tempat sedang nabi Muhammad bin Abdullah, yang manusia it uterus naik ketempat yang lebih tinggi.
Akan tetapi, manusia juga potensi untuk mencapai derajat terendah seperti itu, “kemudian kami kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya”. Ketika itu makhluk binatang pun masih lebih tinggi dan lebih lurus dari padanya. Karena binatang masih melaksanakan ilham bertasbih menyucikan tuhannya, dan menunaikan tugasnya dibumi menurut petunjuk yang digariskan allah. Sedangkan manusia, yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, mengingkari tuhannya, dan memperturutkan hawa nafsunya. Sehingga, ia hingga jatuh kelembah kehinaan terendah yang binatang pun tidak sampai terjatuh serendah itu.[21]
“sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” dalam fitrah dan potensinya. “kemudian kami kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya” ketika dia sudah menyimpang dengan fitrahnya dari garis yang telah ditunjuki. Dan dijelaskan oleh allah. Kemudian dibiarkannya ia untuk memilih salah satu dari dua jalan kehidupan.
“kecuali orang2 yang beriman dan mengerjakan amal shaleh” maka merekalah yang tetap berada diatas fitrah yang lurus. Dan menyempurnakannya dengan iman dan amal shaleh serta meningkatkan derajatnya ketingkat kesempurnaan sesui dengan ukuran yang ditetapkan untuknya. Sehingga mencapai kehidupan yang sempurna dinegeri kesempurnaan.”maka bagi mereka pahala yang tiada putus putusnya”. Yang kekal abadi tidak akan pernah berhenti.
Adapun orang orang yang terbaik dengan fitrahnya ketingkatan yang serendah rendahnya, maka kelak akan menempati tempat paling rendah diakhirat nanti, dineraka jahannam. Disana kemanusiaannya tersia sia, berkubang dalam kehinaan.
Inilah akibat yang logis sesuai dengan titik awalnya. Ada kalanya bermula dari komitmennya pada fitrah yang lurus dan menyempurnakannya dengan iman, serta meninggikannya dengan amal shaleh. Kemudian pada akhirnya ia akan sampai pada kesempurnaan yang ditetapkan dan berada dalam kehidupan yang penuh kenikmatan. Namun ada kalanya menyimpang dari fitrah yang lurus, terbalik, dan terputus dari tiupan illahiah, sehingga pada akhirnya ia sampai ketempat paling rendah dineraka yang menyala nyala.
Oleh karena itu tampak jelaslah nilai iman didalam kehidupan manusia. Iman inilah yang meningkatkan dan menyampaikan fitrah yang lurus untuk mencapai puncak kesempurnaannya. Ia adalah tali yang membentang antara fitrah dan penciptaannya. Ia adalah cahaya yang menerangi langkah langkahnya untuk mendaki kepada orang orang dalam kemuliaan yang kekal.
Apabila tali ini putus dan cahaya itu padam maka hasil yang pasti adalah keterjatuhan ketempat yang serendah rendahnya. Sehingga terabaikan kemanusiaannya secara total ketika tanah liat berlumuran pada wujud manusia. Dan demikian ia menjadi bahan bakar api neraka bersama bebatuan.[22]

Asbabun Nuzul:
Firman allah SWT. Dalam surat at-tiin ayat ke-5 memberikan pengertian bahwa pada saat manusia akan dikembalikan pada saat manusia akan dikembalikan kepada tingkat pikun (seperti bayi lagi). Sejalan dengan itu pernah rasulullah SAW, ditanya tentang kedudukan orang pikun. Maka kemudian allah SWT. Menurunkan ayat ke-6 dari surat at-tiin ini sebagai penegasan bahwa orang yang beriman dan selalu beramal shaleh sebelum kedatangan pikun telah mendapat pahala yang banyak sekali, tiada terputus sama sekali (amal jariyah) dari sisi allah SWT. (HR. ibnu jarir dari al’aufi dari ibnu abbas).[23]



BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
hakikat fitrah yang lurus yang allah menciptakan manusia atas fitrah ini. Istiqamah tabiatnya bersama tabiat iman, dan sampainya fitrah itu bersama iman kepada kesempurnaannya yang ditakdirkan untuknya. Hakikat tentang jatuhnya manusia dan kerendahannya ketika ia menyimpang dari fitrah yang benar dan iman yang lurus.
Perhatian allah kepada manusia, meskipun pada diri mereka juga terdapat kelemahan dan ada kalanya penyimpangan dari fitrah dan kerusakan. Mengisyaratkan bahwa mereka memiliki urusan tersendiri disisi allah dan memiliki pertimbangan sendiri didalam system semesta. Perhatian ini tmpak didalam penciptaannya dan susunan tubuhnya yang bernilai dibandingkan dengan makhluk lain, baik dalam susunan fisiknya yang sangan cermat, dan rumit, susunan akalnya yang unik maupun susunan ruhnya yang menakjubkan.
mereka akan menjadi makhluk yang sangat hina manakala tidak beriman dan bertaqwa. Tidak beramal shaleh, malah meningkatkan kemaksiatan , melakukan kekafiran dan kedustaan sehingga merekalah tempat bersemayamnya. Yakni suatu tempat yang sangat hina lagi jelek. Sebaliknya manakala mereka beriman, bertakwa, melakukan amal shaleh dan menjauhi maksiat maka surga tempat tinggalnya.
B.     SARAN
Dengan mempelajari filsafat dakwah, selain bisa mengetahui apa itu filsafat Dakwah. Mengetahui tentang tantangan daam paradigm penciptaan manusia didalam filsafat dakwah  juga merupakan cara yang baik dalam proses belajar. Oleh karena itu sebagai kaum pelajar kita harus mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari.Pelajar adalah masyarakan yang terpelajar. Yang dianggap sebagai kaum pelajar, karena mereka berpendidikan..


DAFTAR PUSTAKA
Ar-Rifa’I, Syekh Usamah. 2008. Tafsirul Wajiz. Jakarta: Gema Insani.
Departemen Agama RI. Alquran dan Terjemahnya. Semarang: PT Karya Toha Putra.
http://imamsuprayogo//islam-dan-paradigma-kehidupan.html.
http://safanpage//penciptaan-manusia-pertama-menurut-alquran.html.
Mahali, Ahmad Mujab. 2002. Asbabun Nuzul Studi Pendalaman Al-Qur’an. Jakarta: PT. Raja Grfindo Persada.
Quthb, Sayyid. 2007. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Jakarta: Gema Insani.


[1] http://imamsuprayogo//islam-dan-paradigma-kehidupan.html.
[2] http://safanpage//penciptaan-manusia-pertama-menurut-alquran.html.
[3] Syekh Usamah Ar-Rifa’I, Tafsirul Wajiz, (Jakarta: Gema Insani, 2008), cet. 1, hlm 298.
[4] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya, (Semarang: PT Karya Toha Putra), hlm. 1269.
[5] Syekh Usamah Ar-Rifa’I, Tafsirul Wajiz,… hlm 298.
[6] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya,… hlm 1269.
[7] Syekh Usamah Ar-Rifa’I, Tafsirul Wajiz,… hlm 298
[8] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya,… hlm 1269.
[9] Syekh Usamah Ar-Rifa’I, Tafsirul Wajiz,… hlm 298
[10] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya,… hlm 1269.
[11] Syekh Usamah Ar-Rifa’I, Tafsirul Wajiz,… hlm 298
[12] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya,… hlm 1269.
[13] Syekh Usamah Ar-Rifa’I, Tafsirul Wajiz,… hlm 298
[14] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya,… hlm 1269.
[15] Syekh Usamah Ar-Rifa’I, Tafsirul Wajiz,… hlm 298
[16] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya,… hlm 1269.
[17] Syekh Usamah Ar-Rifa’I, Tafsirul Wajiz,… hlm 298
[18] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya,… hlm 1269.
[19] Ahmad Mujab Mahali, Asbabun Nuzul Studi Pendalaman Al-Qur’an, (Jakarta: PT. Raja Grfindo Persada, 2002), cet. 1, hlm. 925.
[20] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2007), cet. 4, Hlm 298.
[21] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, …  Hlm 299.
[22] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an,… hlm 230.
[23] Ahmad Mujab Mahali, Asbabun Nuzul Studi Pendalaman Al-Qur’an,… hlm 925.
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Blog Archive

  • ▼  2013 (27)
    • ▼  April (27)
      • makalah Ilmu Komunikasi.
      • makalah sejarah dakwah
      • makalah psikologi
      • makalah hadist
      • makalah komunikasi
      • komunikasi kontemporer
      • makalah ilmu dakwah
      • makalah dakwah abbasiyah
      • makalah bahsul kutub
      • tugas PROSES PENERBITAN PERS (ngliput berita)--> (5)
      • makalah proses penerbitan pers(5)
      • makalah Sistem Informasi Manajemen Dakwah (5)
      • makalah kewirausahaan(5)
      • kewirausahaan (PROPOSAL KERJA) --> (5)
      • makalah hukum dan etika media massa (5)
      • makalah filsafat dakwah --> tantangan dakwah (5)
      • makalah filsafat dakwah - at-tiin (5)
      • makalah Hadist (5)
      • makalah tafsir (4)
      • makalah sosiologi (4)
      • makalah Rijalud Dakwah (4)
      • makalah logika (4)
      • makalah kewarganegaraan (4)
      • makalah filsafat umum (4)
      • makalah psikologi dakwah (3)
      • makalah ushul fiqh (3)
      • makalah tafsir (3)
  • ►  2012 (2)
    • ►  November (2)

Followers

 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com