skip to main | skip to sidebar

risnasari

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Sabtu, 27 April 2013

makalah psikologi

Diposting oleh Unknown di 06.54



Berpikir dan mengingat


BAB I
PENDAHULUAN

 A.LATAR BELAKANG MASALAH
Berpikir adalah tingkah laku yang menggunakan ide-ide yaitu proses simbolis contohnya. Kalau kita membayangkan suatu makanan yang tidak ada maka kita menggunakan ide (berpikir) atau simbol-simbol tertentu. Berfikir itu berlangsung intensional, diarahkan pada sesuatu, dan dipakai untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi. Kemampuan ini penting sekali bagi daya adaptasi terhadap lingkungan sekitar dengan segala tuntutan sosial. Orang yang inteligent akan mampu berfikir, menimbang mengombinasikan, mengambil kesimpulan dan memutuskan sesuatu dalam tempo yang lebih singkat, dan dengan cara yang efisien. jadi dia memiliki daya adaptasi yang lebih efektif, tingkat adaptasi sedemikian ini disebut inteligensi. Sebagian besar dari inteligensi itu oleh pembawaan turun-temurun atau oleh faktor kebakaan. Dan tidak banyak bergantung pada faktof mileu. Khususnya sekolah dan peengajaran. Intelek bawaan ini tidak banyak yang bisa diubah oleh sekolah. Jadi, ada batas-batasnya kemampuan pada intelek itu. Namun demikian, kemajuan dan perkembangan intelek tidak berlangsung spontan dengan sendirinya didorong oleh pertumbuhan dari dalam secara berangsur-angsur dan sesuai dengan tuntunan perkembangan yang baik.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis memberikan judul “Berfikir dan Inteligensi”

B.PEMBATASAN MASALAH
Pembatasan masalah digunakan untuk membatasi masalah yang akan dibahas. Dalam penelitian ini, masalah dibatasi pada pengertian berfikir dan pengertian inteligensi, macam-macam dan metode berfikir, serta tipe-tipe dan pendekatan dalam inteligensi.

C.PERUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini terdapat beberapa penjabaran materi dari latar belakang diatas. Diantaranya yaitu:
1.Bagaimana pengertian berfikir ?
2.Bagaimana macam-macam berfikir serta metode berfikir?
3.Bagaimana pengertian inteligensi?
4.Bagaimana tipe-tipe yang ada dalam inteligensi serta pendekatanya?
D.TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.Untuk mengetahui pengertian berfikir.
2.Untuk mengetahui macam-macam berfikir serta metode berfikir.
3.Untuk mengetahui pengertian inteligensi.
4.Untuk mengetahui tipe-tipe yang ada dalam inteligensi serta pendekatanya.




























BAB II
PEMBAHASAN

A.    BERFIKIR DAN INTELIGENSI
a.    Berfikir
Berfikir adalah kemampuan untuk meletakkan hubungan dari bagian-bagian pengetahuan kita. Sedangkan fikiran, rasio, akal budi adalah kemampuan psikis untuk meeletakkan hubungan dari bagian-bagian pengetahuan kita.

Ada dua macam metode berfikir, yaitu:
1.    deduksi
yaitu metode berfikir yang bertolak dari pengertian lebih tinggi / umum untuk kemudian melompat pada pengertian yang lebih rendah.
2.      induksi
yaitu metode berfikir yang bertolak dari pengertian lebih rendah melompat pada pengertian yang lebih tinggi.

Macam-macam berfikir ada 4 , yaitu:
1.      Berfikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kebiasaan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya.
2.      Berfikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat.
3.      Berfikir autistik adalah semacam berfikir, berfantasi, menanggapi dan berasosiasi yang dipenuhi affek-affek yang kuat untuk membayangkan segala sesuatu baik yang riil maupun irriil.
4.      Berfikir realistik adalah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata, biasanya disebut dengan nalar (reasoning).
Beberapa gangguan yang teradi pada pikiran. Antara lain:
1.    Kelambanan daya berfikir (bradyfreni)
Pada peristiwa ini, arus pikiran-pikiran bisa jadi lamban / lambat. Kelambatan itu juga bisa berlangsung pada peristiwa amnetis dan cedera otak. Reaksi orang yang bersangkutan menjadi sangat lambat, dan dengan susah payah dia akan menjawab pertanyaan orang lain.
Pasien akan terus melekat pada satu masalah / satu tema. Kemudian berputar-putar pada masalahnya, tanpa bisa memahami maknanya dan memecahkannya. Selanjutnya, kelambatan berfikir juga bisa disebabkan oleh adanya rem-rem psikis. Misalnya: oleh rasa malu, rendah diri dan kecemasan. Dalam kondisi demikian, arus pikiran jadi terhambat/terulang-ulangi oleh suasana hati yang depresi dan kemurungan yang abnormal.
2.    Percepatan pada pikiran
Pada peristiwa ini, kondisi panas hati, dan pasien menjadi sangat gelisah serta bingung, pikiran bisa dipercepat. Pasien ingin bercerita sebanyak-banyaknya, sehingga dia tidak mampu menyelesaikan pikiran sendiri. Kadangkala terputus rangkaian kalimat dan pengertiannya, sehingga si penderita tampak sangat kalut, kusut, dalam cara berfikirnya. Pasien yang menderita manis dan sangat panas hatinya sering menyatakan bahwa kehidupan batinnya selalu liar dan ganas menggelora.
3.    Terputusnya pikiran
Terputusnya pikiran bisa di sebabkan oleh satu absensi spikis gejala epilepsi dan hilangnya kesadaran dalam waktu singkat. Pada beberapa penderita psikotis arus pikiran secara tiba tiba bisa terpotong putus tanpa adanyapenurunan atau hilangnya kesadaran. Peristiwa ini disebut sperrung atau penyekatan pikiran. Sekatan dalam hal ini afek afek yang kkuat sehingga tiba tiba saja si pasien tidak bisa meneruskan pikiran dan bicaranya. Disamping itu para penderita yang kehilangan inisiatif dan mereka yang dengan tiba tiba tidakmau melanjutkan komunikasinya dengan orang  lain.
4.    Inkoherensi pada kemampuan berfikir
Pikiran menjadi kusut apa bila pasien terganggu fungsi kesadarannya. Dan fikiran disebut inkoheren atau tidak runtun apabila kesadarannya jelas jernih, namun hubungan diantara bagian bagian diri pikiran tersebut tidak ada. Peristiwa itu bisa terjadi oleh pemimpi siang dan penderita psikosa dan schizofrenia.
Bentuk gangguan pada  ialah amnesia, hambatan pada fungsi reproduksi, dan senilitas. Hambatan pada reproduksi ini bisa berupa: gangguan terhadap reproduksi langsung, dekat, dan jauh.[1]
  1. Inteligensi
a)      Pengertian Inteligensi
Inteligensi mmpunyai beberapa pengertian. Diantarnya :
1.      Inteligensi adalah kemampuan menghadapi dan menyemaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif.[2]
2.      Inteligensi/intelek adalah kemampuan untuk meletakkan hubungan-hubungan dari proses berfikir.[3]
3.      Inteligensi menurut edward lee thorndike(seorang tokoh psikologi fungsionalisme) adalah kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta.[4]
4.      Inteligensi adalah kemampuan untuk menggunakan dengan tepat segenap alat bantu dari piikiran guna menyesuaikan diri terhadap tuntutan baru. (menurut william stem).
Inteligensi itu mempunyai banyak aspek, antara lain ialah : kemampuan memecahkan masalah, berbuat, menanggapi, wawasan ruang dan wawasan bentuk, kemampuan untuk abstraksi-sublimasi-integrasi. Jika orang tidak berhasil menggunakan inteligensinya dalam usahanya memecahkan suatu masalah, maka akan dicobanya cara atau metode lain. Sebaliknya, keberhasilan usahanya akan diulang-ulang kembali. Dengan demikian ada proses belajar pada diri orang tersebut.
Sebagian besar dari inteligensi itu oleh pembawaan turun-temurun atau oleh faktor kebakaan. Dan tidak banyak bergantung pada faktof mileu. Khususnya sekolah dan peengajaran. Intelek bawaan ini tidak banyak yang bisa diubah oleh sekolah. Jadi, ada batas-batasnya kemampuan pada intelek itu.
Beberapa tipe-tipe inteligensi, yaitu:
  1. Inteligensi teoritis: kemampuan menggunakan skema-skema berfikir dan abstraksi-abstraksi untuk cepat bergerak dan dan menyesuaikan diri terhadap situasi-situai baru.
  2. Inteligensi praktis: berkaitan dengan berbuat praktis dan cepat, terutama dibidang teknik dan pekerjaan.
  3. Inteligensi kreatif dan inventif: kemampuan mencipta dan merancang alat-alat bantu baru dan penemuan-penemuan baru.
  4. Inteligensi eksekuif: kekayan psikis yang dimiliki oleh jutaan manusia untuk menggunakan alat-alat bantu.[5]
Pendekatan umum menurut maloney dan ward. Yaitu:
  1. Pendekatan teori belajar
Pendekatan ini mengenai masalah hakikat inteligensi terletak pada pemahaman mengenai hukum-hukum dan prinsip umum yang dipergunakan oleh individu untuk memperoleh bentuk prilaku baru.
Dalam pendekatan ini inteligensi bukanlah sifat kepribadian, akan tetapi kwalitas hasilbelajar yang telah terjadi.  Lingkungan belajar sendiri menentukan kwalitas dan keluasan cadangan prilaku seseorang.
  1. Pendekatan Neuro-Biologis
Pendekatan ini beranggapan bahwa inteligensi memiliki dasar anatomis dan biologis. Pendekatan ini menimbulkan berbagai teori inteligensi (teori halstead).
  1. Pedekatan psikometris
Pendekatan ini beranggapan bahwa inteligensi merupakan suatu konstrak atau psikologis yang berbeda-beda kadarnya bagi setiap orang. Namun dikarenakan para ahli psikometris biasanya lebih tertarik pada masalah pengukuran psikologis, maka mereka lebih mengutamakan perhatian mereka pada cara praktis untuk melakukan klasifikasi dan prediksi. Dalam pendekatan psikometris sendiri, terdapat dua arah study, yaitu pertama, bersifat praktis dan lebih menekankan pada pemecahan masalah. Kedua, lebih menekankan pada konsep dan penyusunan teori. Pendekatan psikometris inilah yang melahirkan berbagai skala pengukuran intelijensi yang menjadi awal skala intelegensi yang banyak dikenal sekarang.
  1. Pendekatan teori perkembangan
Dalam pendeatan teori perkembangan study inelegensi dipusatkan pada masalah perkembangan intelegensi secara kualitatif hdalam kaitannya dengan tahap tahap perkembangan biologis individu
Contoh: jean pieget mengawali  konsepsi mengenai tes intelegensi dengan melihat respon respon yang salah yang dilakukkan anak anak dalam tes intelegensitampak oleh piaget bahwa terdapat pola respon tertentu yang adakaitannya dengan tingkatan  usia tertentu pula.[6]
Bentuk gangguan pada inteligensi ialah amentia dan dementia. Pada kategori amentia dimasukkan gejala idiocy (cacat jasmaniah dan rohaniahnya amat berat. IQ nya kurang dari 25, dan tidak bisa berkembang lagi. Penderita juga tidak bisa mengerti dan tidak bisa diajari apa-apa), imbesilitas (IQ nya 25-49, seperti kanak-kanak berumur 3-7 tahun. Ukuran tinggi dan bobot badan mengalami anomali/kelainan), dan debilitas (geala lemah ingatan sudah tampak sebelum tahun-tahun masa sekolah, tidak mempunyai kemampuan mengontrol diri, koordinasi dan adaptasi yang wajar). Sedang gejala dementia ialah gejala rusaknya mental dengan ciri-ciri semakin memburuk atau hilangnya fungsi-fungsi intelektual (mengamati, menalar, mengingat kembali) serta kemauan. Juga ddisertai kebingungan, disorientasi, apati dan macam-macam tingkatan stupor.[7]

BAB III
PENUTUP

  1. KESIMPULAN
a)      Berfikir
Berfikir adalah kemampuan untuk meletakkan hubungan dari bagian-bagian pengetahuan kita. Sedangkan fikiran, rasio, akal budi adalah kemampuan psikis untuk meeletakkan hubungan dari bagian-bagian pengetahuan kita.
Berfikir itu berlangsung intensional, diiarahkan pada sesuatu, dan dipakai untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi. Kemampuan berfikir ini penting sekali bagi daya adaptasi terhadap lingkungan sekitar dengan segala tuntutan sosialnya.
Beberapa gangguan pikiran ialah: kelambatan daya berfikir (bradyfrent), percepatan pada pikiran hingga cara berfikir menjadi kalut-kusut, terputusnya pikiran, inkoherensi pada kemampuan berfikir, kesesatan pada isi-isi pikiran (yang tidak bisa dibetulkan), dan waham atau delusi.
Maka pada semua bentuk gangguan pikiran itu teradi peristiwa:
1.Kecenderungan untuk memelsukan realitas atas dasar harapan-harapan dan kecemasan-kecemasan sendiri
2.  Menurun atau hilangnya “reality testing”, hungga orang ttidak mampu mengoreksi pemalsuan terhadap realitas nyata.
b)     inteligensi
Inteligensi adalah kemampuan untuk menggunakan dengan tepat segenap alat bantu dari piikiran guna menyesuaikan diri terhadap tuntutan baru. (menurut william stem).
Sebagian besar dari inteligensi itu oleh pembawaan turun-temurun atau oleh faktor kebakaan. Dan tidak banyak bergantung pada faktof mileu. Khususnya sekolah dan peengajaran. Intelek bawaan ini tidak banyak yang bisa diubah oleh sekolah. Jadi, ada batas-batasnya kemampuan pada intelek itu.
            Bentuk gangguan pada inteligensi ialah amentia dan dementia. Pada kategori amentia dimasukkan gejala idiocy, imbesilitas, dan debilitas. Sedang gejala dementia ialah gejala rusaknya mental dengan ciri-ciri semakin memburuk atau hilangnya fungsi-fungsi intelektual (mengamati, menalar, mengingat kembali) serta kemauan. Juga ddisertai kebingungan, disorientasi, apati dan macam-macam tingkatan stupor.
  1. SARAN
Dengan mempelajari psikologi selain bisa mengetahui gangguan-gangguan kejiwaan yang ringan maupun yang berat. Berpikir dan mengingat merupakan cara yang baik dalam proses belajar. Oleh karena itu sebagai kaum pelajar kita harus mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari.Pelajar adalah masyarakan yang terpelajar. Yang dianggap sebagai kaum pelajar, karena mereka telah mengetahui apa itu berpikir dan mengingat.

DAFTAR PUSTAKA
Kartono, Kartini. 2002. Patologi Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Azwar, Saifuddin. 2008. Pengantar Psikologi Inteligensi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Chablin, JP. 2009. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.


[1] Kartini Kartono, patologi sosial,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hlm 81.
[2][2] JP Chablin, Kampus Lengkap Psikologi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), hlm 2.
[3] Kartini Kartono, patologi sosial,... hlm 95.
[4] Saifuddin Azwar, Pengantar Psikologi Inteligensi, (Yogyakarta: Pustaka Pelaar, 2008), hlm 6.
[5] Kartini Kartono, patologi sosial,... hlm 96.
[6] Saifuddin Azwar, Pengantar Psikologi Inteligensi,... hlm 11.
[7] Kartini Kartono, patologi sosial,... hlm 105.
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Blog Archive

  • ▼  2013 (27)
    • ▼  April (27)
      • makalah Ilmu Komunikasi.
      • makalah sejarah dakwah
      • makalah psikologi
      • makalah hadist
      • makalah komunikasi
      • komunikasi kontemporer
      • makalah ilmu dakwah
      • makalah dakwah abbasiyah
      • makalah bahsul kutub
      • tugas PROSES PENERBITAN PERS (ngliput berita)--> (5)
      • makalah proses penerbitan pers(5)
      • makalah Sistem Informasi Manajemen Dakwah (5)
      • makalah kewirausahaan(5)
      • kewirausahaan (PROPOSAL KERJA) --> (5)
      • makalah hukum dan etika media massa (5)
      • makalah filsafat dakwah --> tantangan dakwah (5)
      • makalah filsafat dakwah - at-tiin (5)
      • makalah Hadist (5)
      • makalah tafsir (4)
      • makalah sosiologi (4)
      • makalah Rijalud Dakwah (4)
      • makalah logika (4)
      • makalah kewarganegaraan (4)
      • makalah filsafat umum (4)
      • makalah psikologi dakwah (3)
      • makalah ushul fiqh (3)
      • makalah tafsir (3)
  • ►  2012 (2)
    • ►  November (2)

Followers

 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com