skip to main | skip to sidebar

risnasari

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Sabtu, 24 November 2012

artikel

Diposting oleh Unknown di 14.53

DIBALIK KENIKMATAN ROKOK



Hingga saat ini rokok tidak bisa lepas dari budaya orang indonesia. Walaupun pernah diberlakukan fatwa haram merokok oleh MUI, tapi tetap saja rokok mendapatkan tempat dimasyarakat. Kita lihat saja, diwilayah kampus INISNU yang kita tempati untuk balajar dan mencari ilmu sering sekali dijumpai mahasiswa maupun dosen yang asyik merokok, Salah satu mahasiswa mengatakan “Rokok adalah teman setia”. Walaupun bahaya rokok yang dapat mengancam kesehatan, seperti yang terdapat dalam setiap bungkus rokok merk apapun “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. rokok juga dapat menjadi beban ekonomi suatu keluarga. para ibu- ibu yang suaminya merokok banyak yang mengeluhkan hal tersebut “ dalam sehari suami saya menghabiskan dua bungkus rokok, dan harga rokok yang dibeli berkisaran 10.000 per bungkus, sedangkan harga beras berkisaran 8.000. andaikan uang tersebut diperuntukkan buat beli beras dan lauk kan sudah cukup untuk makan sehari “ ujar mbak samah (seorang ibu berumur 35 th).
Selain menimbulkan penyakit, merokok juga mengganggu orang lain yang tidak merokok. Baik dari asapnya yang mengganggu pernafasan juga bau mulutnya. Dalam klasifikasi merokok disebutkan ada perokok aktif dan perokok pasif.  Adapun perokok aktif adalah seseorang yang melakukan kegiatan merokok, sedangkan perokok pasif adalah seseorang yang tidak merokok dan ada disekitar orang yang merokok. Banyak ahli kesehatan yang mengatakan bahwa perokok pasif mendapatkan imbas yang lebih bahaya dari pada perokok aktif. Tapi, bukan berarti merokok itu lebih baik dari pada tidak merokok, karena bahaya kesehatan akan tetap mengancam para perokok aktif.
Dampak dari merokok tidak cepat terlihat saat usia masih muda, walaupun setiap hari terpapar racun rokok atau radikal bebas. Hal tersebut disebabkan karena tubuh pada seseorang yang masih muda masih banyak terdapat sel tubuh.  Dampak dari merokok akan muncul setelah puluhan tahun berbarengan dengan menurunnya pertumbuhan sel pada tubuh manusia. Dalam pertengahan usia, radikal bebas yang disebabkan oleh kebiasaan merokok akan mempercepat proses kematian sel pada tubuh sehingga bisa mengundang berbagai penyakit.
Bagi sebagian orang merokok bisa dijadikan teman ketika sendirian, kandungan caffein yang terdapat pada rokok dijadikan teman saat kerja lembur, dan bisa jadi teman berfikir karena kandungan nikotin rokok yang bersifat menenangkan. Dilihat dari segi ekonomi, rokok merupakan salah satu investasi besar negara yang berperan penting dalam pembangunan, baik dari segi pajak juga memperkecil angka pengangguran.
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

artikel

Diposting oleh Unknown di 10.12

(MISI KHUSUS PANGERAN DARI NEGERI SEBRANG)

 

Asal Usul Sultan Hadlirin
Sebenarnya Sultan Hadlirin bukanlah asli putra Jepara melainkan berasal dari aceh. Putra dari seorang penguasa di Aceh yang bernama raja Syech Mukhayyat Syah. Semasa kecil beliau bernama Raden Toyib dan mempunyai kakak bernama Raden Takyim, sifat mereka berdua sangatlah berbeda Raden Takyim hanya suka berfoya-foya dan bermewah mewahan, sedangkan Raden Toyib lebih suka mempelajari ilmu ilmu yang berhubungan dengan tata pemerintahan. Oleh  karena sifat mereka yang berbeda itu Syech Mukhayyat lebih memilih Raden Toyib sebagai penggantinya untuk memimpin wilayah Aceh. sebelum syech Mukhayyat meninggal dunia, beliau mendesak Raden Toyib agar mau menjadi sultan Aceh, karena permintaan ayahandanya akhirnya Raden Toyib pun bersedia menerima jabatan yang disandangkan padanya. Akan tetapi karena yang seharusnya menjadi sultan adalah kakaknya, seusai pengangkatan Raden Toyib sebagai sultan muncul beberapa konflik baru. Setelah mengetahui hal tersebut Raden Toyib dengan ikhlas menyerahkan tahtanya kepada Raden Takyim kakaknya.
Dengan satu niat untuk mengembangkan agama Islam Raden Toyib pergi mengembara tanpa tujuan yang pasti seusai menyerahkan tahtanya kepada Raden Takyim. sesampainya di daratan Tiongkok, Raden Toyib bertemu dan bahkan diangkat anak seorang patih Tionghoa yang bernama Cie Wie Gwan. Mereka hidup dengan damai dan bahagia, tetapi pada suatu ketika giwang mahkota kaisar rusak dan kaisar menyuruh patih Cie Wie Gwan untuk memperbaikinya dengan konsekuensi jikalau 40 hari patih Cie Wie Gwan gagal memperbaiki giwang mahkota tersebut maka dia akan dihukum mati. Mendengar itu ayah angkat Raden Toyib merasa takut dan sedih dia mencari seseorang yang dapat memperbaiki giwang tersebut keseluruh penjuru pelosok negeri tapi tidak ada satupun yang sanggup memperbaikinya. Melihat kegelisahan ayah angkatnya, Raden Toyib pun bertanya tentang masalah yang di hadapinya. Raden toyib mendengar penuturan ayahnya dengan seksama, dan setelah tuntas penuturan patih Cie Wie Gwan, Raden Toyib menyatakan sanggup memperbaiki giwang mahkota sang kaisar. Ia pun meminta satu kamar khusus yang mana tidak ada yang boleh masuk. Setelah satu minggu Raden Toyib keluar dari kamar itu dengan membawa giwang mahkota yang telah diperbaiki, bahkan lebih bagus dari sebelumnya.
Lima tahun kemudian Raden Toyib kembali melanjutkan mengembara sampai pesisir utara yang dikenal dengan Bandar Jepara. Sebuah pelabuhan perdagangan yang sudah ramai karena Bandar Jepara merupakan salah satu dari delapan kerajaan yang merdeka di pulau Jawa dan Madura (Banten, Jakarta, Cirebon Prawoto, Kedu, Madura, Kalinyamat) sehingga Bandar Jepara merupakan garis pelayaran dan perdagangan di Malaka. Untuk menyebarkan agama Islam Raden Toyib menyamar sebagai rakyat biasa. Karena keramahannya beliau banyak disegani sehingga banyak yang tertarik ajakannya dalam mendalami ilmu agama Islam.
Setelah beberapa lama tinggal di Bandar Jepara, timbul niat Raden Toyib untuk mengapdikan dirinya di kerajaan kalinyamat yang saat itu menguasai Jepara. Setibanya di keraton kalinyamat ia bertemu dengan penjaga gerbang dan menyampaikan maksudnya tersebut dan ingin bertemu dengan sang ratu Kalinyamat. Setelah bertemu dan menyampaikan maksud dan tujuannya, ia di beri amanat sebagai tukang kebun di kawasan keraton. Pada suatu ketika ratu Kalinyamat memeriksa kerajaan, disaat ia melihat Raden Toyib hatinya berdebar-debar dan merasa kalau Raden Toyib bukanlah orang biasa. Segera ratu Kalinyamat menanyakan hal itu tetapi Raden Toyib tidak berkenan untuk menjawab, akhirnya ia dipenjara. Beberapa waktu lamanya Raden Toyib akhirnya berkenan menceritakan asal usulnya, kedua kalinya hati ratu Kalinyamat berdebar dan teringat ramalan dari ayahnya kalau jodohnya bukanlah dari masyarakat Jawa. Karena itu Ratu Kalinyamat yakin kalau Raden Toyib adalah jodoh yang dikirimkan tuhan untuknya. Tidak dijelaskan bagaimana sikap Raden Toyib saat itu, tapi yang pasti Raden Toyib bersedia menikahi kanjeng ratu Kalinyamat.
Pemerintahan Sultan Hadlirin
Setelah menikah, ratu Kalinyamat menyerahkan tahta dan semua urusan yang menyangkut pemerintahannya kepada Raden Toyib dan sekaligus mengampu putra pangiri yang belum dewasa. Setelah Raden Toyib dinobatkan menjadi Adipati Jepara sekitar tahun 1536, beliau diberi nama Sultan Hadlirin yang artinya raja yang datang dari seberang. Sementra ratu Kalinyamat hanya jadi pendampingnya saja. Dan bahkan ayah angkat sultan Hadlirin dipanggil dan dijadikan patih dikerajaan untuk membantu sultan Hadlirin dalam menjalankan tata pemerintahannya. Dengan bijaksana mereka memimpin wilayah kekuasaannya yang meliputi Jepara, Juana, Pati, Rembang.
Dikarenakan tidak mendapatkan keturunan, sedangkan anak yang di angkat dari sultan Hasanuddin adalah seorang perempuan yang berarti kedudukannya tidak terlalu kuat jika meggantikannya kelak, akhirnya ratu Kalinyamat meminta suaminya tuk menikah lagi. Setelah menimbang berbagai hal, akhirnya sultan hadlirin menikah dengan putri Raden Ayu Pidobinabar yang tak lain putri dari sunan Kudus. Dengan ini terjadi penggabungan dua kekuasaan, yaitu Kudus dan Jepara.
Sultan Hadlirin Wafat
Ketika Demak terjadi perebutan tahta kerajaan, konon Setelah Raden Patah meninggal yang disusul pula dengan Pangeran Sabrang Lor, Sultan Demak II, tahta kerajaan harusnya berpindah tangan ke adiknya yang paling tua yaitu Pangeran Seda Lepen. Namun ia juga meninggal setelah di bunuh oleh Sunan Prawoto yang nampaknya telah mengincar tahta kerajaan Demak. Karena pembunuhan tersebut kesultanan kerajaan demak jatuh ke tangan Pangeran Trenggana ayah Sunan Prawoto.
Setelah Pangeran meninggal cita-cita Sunan Prawoto tercapai, ia menjadi pewaris tahta kerajaan Demak. Namun Arya Penangsang menjadi geram karena pembunuh ayahnya menjadi malah muncul sebagai Sultan Demak. Merasa sebagai pewaris kesultanan Demak yang sah, maka Arya Penangsang menyuruh abdinya untuk membunuh Sunan Prawoto. Usaha tersebut berhasil, tapi kekuasaan dan kekayaan jatuh ketangan Sultan Hadlirin yang sekaligus mendapat hak menjadi pengampu Arya Pangiri, putra mahkota kerajaan Demak hingga dewasa. Hal itu bisa terjadi karena istri Sultan Hadlirin adalah kakaknya Sunan Prawoto. Tentu saja Kanjeng Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin meminta keadilan atas perbuatan muridnya kepada Sunan Demak, Arya Penangsang. Tapi Sunan Kudus membenarkan perbuatan Arya Penangsang malah ia berkata “kakakmu telah hutang pati pada Arya Penangsang”. Kanjeng Ratu menjadi kecewa atas perkataan Sunan Kudus dan ia segera pulang bersama suaminya. Namun di tengah perjalanan itu ia dihadang oleh utusan Arya Penangsang yang memang di tugaskan untuk mencegatnya dan suaminya. Dalam pencegatan itulah akhirnya Sultan Hadlirin berhasil dibunuh oleh Arya Penangsang. Hal itu terjadi kira-kira tahun 1471 tahun Jawa atau 1549 M.
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Blog Archive

  • ►  2013 (27)
    • ►  April (27)
  • ▼  2012 (2)
    • ▼  November (2)
      • artikel
      • artikel

Followers

 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com