skip to main | skip to sidebar

risnasari

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Sabtu, 27 April 2013

makalah tafsir (4)

Diposting oleh Unknown di 06.07


 Tahapan Dakwah Dalam Surat As-Syuara 214

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan diyakini sebagai kunci pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia. Namun, pendidikan kita mengalami proses “dehumanisasi”. Dikatakan demikian karena pendidikan mengalami proses kemunduran dengan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya. Realitas proses pembelajaran yang terjadi di sekolah-sekolah selama ini hamper  tidak memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis mereka. Peserta didik masih saja menjadi obyek. Mereka diposisikan sebagai orang yang tertindas, orang yang tidak tahu apa-apa, orang yang harus dikasihani, oleh karenanya harus dijejali dan disuapi. Setiap hari indoktrinasi dan brainwashing terus saja terjadi terhadap anak-anak. Anak-anak terus saja dianggap sebagai bejana kosong yang siap dijejali aneka bahan dan kepentingan demi keuntungan semata. Anak-anak dipasung kebebasannya, tidak lagi dilihat sebagai anak (lebih-lebih di pendidikan dasar), tetapi sebagai robot, beo, dan kader politik mini yang hanya tahu melaksanakan perintah ”tuan”nya.
tafsir adalah ilmu yang membahas tentang redaksi-redaksi al-qur’an, dengan memperhatikan pengertian-pengertiannya untuk mencapai pengetahuan tentang apa yang dikehendaki oleh allah, sesuai kadar kemampuan manusia. Disini kita mempelajari tentang tahapan-tahapan dalam berdakwah. Pembahasan dimakalah ini mengenai tahapan dalam berdakwah dalam kandungan surat as-syuara ayat 214. tujuan utamanya adalah semua yang berpotensi disentuh oleh kemusyrikan, kini ayat diatas berpesan lagi kepada beliau bahwa:  hindarilah segala hal yang dapat mengundang murka allah dan berilah peringatan kepada kerabat kerabatmu yang terdekat.

  1. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah digunakan untuk membatasi masalah yang akan dibahas. Dalam penelitian ini, masalah dibatasi pada tahapan dakwah yang terkandung dalam surat as-syuara 214.

  1. Perumusan Masalah
Dalam makalah ini terdapat beberapa penjabaran materi dari latar belakang diatas. Diantaranya yaitu:
1.      Bagaimana pengertian tafsir ?
2.      Bagaimana tahapan dakwah dalam surat as-syuara 214?

  1. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui pengertian tafsir.
2.      Untuk mengetahui tahapan dakwah dalam surat as-syuara 214.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Tafsir
Secara lughot, Tafsir ialah menjelaskan dan menerangkan, diambil dari kata al-fasr yang bermakna menjelaskan dan membuka. Dalam kamus dikatakan bahwa makna al-fasru adalah menjelaskan dan membuka sesuatu yang tertutup. Ia mengatakan dalam kitab al bahr al muhith, tafsir dapat pula bermakna “menelanjangi” secara mutlak.[1]
Sedangkan pengertian tafsir secara istilah ilmu untuk memahami kitab allah SWT yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan merupakan penjelasan makna-makna serta kesimpulan hikmah dan hokum-hukum. Menurut ulama’ tafsir adalah ilmu yang membahas tentang redaksi-redaksi al-qur’an, dengan memperhatikan pengertian-pengertiannya untuk mencapai pengetahuan tentang apa yang dikehendaki oleh allah, sesuai kadar kemampuan manusia.[2]

B.     Tahapan Dakwah Dalam Surat As-Syuara 214
a.      Surat as-syu’ara 214
وا نذ رعشير تك الأ قربين[3]
Arti kata:
ا نذر
berilah peringatan
عشير
anggota suku yang terdekat
 الأ قربين
orang-orang yang dekat dari mereka yang terdekat.


Artinya:  “Dan berilah peringatan kepada kerabat kerabatmu (muhammad)
yang terdekat”. [4]
Bagi ibnu asyur ayat ini tertuju kepada nabi Muhammad SAW. Ia adalah uraian khusus setelah ayat sebelumnya merupakan uraian umum menyangkut siapa saja. Demikian tulisnya.
Kata ( عشير ه) à anggota suku yang terdekat, diambil dari kata ( عا شر) à saling bergaul karena anggota suku yang terdekat atau keluarga adalah orang2 yang sehari2 bergaul.
Kata ( الأ قربين ) à yang menyifati kata (عشير ه) merupakan penekanan sekaligus guna mengambil hati mereka sebagai orang-orang yang dekat dari mereka yang terdekat.
Setelah memerintahkan nabi muhammad SAW. Menghindari kemusyrikan, yang tujuan utamanya adalah semua yang berpotensi disentuh oleh kemusyrikan, kini ayat diatas berpesan lagi kepada beliau bahwa:  hindarilah segala hal yang dapat mengundang murka allah dan berilah peringatan kepada kerabat kerabatmu yang terdekat tanpa pilih kasih[5] dan Takut takutilah kerabatmu yang terdekat dengan azab dan siksa allah yang keras bagi orang yang kafir kepadanya dan yang menyekutukan-Nya dengan yang lain.[6]
Seruan rasulullah agar berhati-hati dengan syirik. Allah memerintahkannya untuk mengingatkan kerabatnya yang dekat agar bertawakkal kepada allah yang selalu memperhatikan dan menjaganya. Ketika rasulullah termasuk dalam orang-orang yang diancam akan adzab bersama orang-orang yang mendustakan, bila beliau ikut pula menyeru tuhan lain selain allah, itu hanyalah hipotesis untuk mendekatkan pemahaman. Kalau rasulullah saja termasuk orang-orang yang diancam, lantas bagaimana dengan orang-orang lainnya. Disini menunjukkan bahwa tuha tidak pilih kasih sama sekali.
Setelah rasulullah memperingatkan diri sendiri, beliau diperintahkan untuk mengingatkan kekeluarganya, agar selain mereka mendapat pelajaran darinya bahwa merekapun sesungguhnya terancam denga adzab bila ttap berada dalam kemusyrikan dan tidak mau beriman.[7]
Begitu juga ayat ini menyuruh supaya dipertakuti dengan siksa dan hukuman karib kerabatmu sendiri dan tidak akan terlepas dari hukuman dan siksaan itu, meskipun anakmu, bapakmu, ibumu, saudaramu, dsb. Semuanya itu dihukum bila bersalah dan berdosa. Maka tidak ada familisme dan kawanisme dalam islam. Melainkan semuanya itu tunduk kepada hukum yang satu dengan tiada memandang bulu. Inilah keadilan yang mutlak dalam islam. Dengan keadilan semacam inilah kaum muslimin dahulu kala memerintahi dunia. Begitu juga allah menyeru nabi supaya jangan berlaku sombong terhadap orang-orang mukmin yang menjadi pengikutnya. Hal ini patut ditiru oleh kepala-kepala dan pemimpin-pemimpin.[8]
Demikian ayat ini mengajarkan kepada rasul SAW dan ummatnya agar tidak mengenal pilih kasih/ memberi kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan. Ini berarti nabi dan keluarga beliau tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari kewajiban. Mereka tidak memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada rasul SAW. karena semua adalah hamba alla, tidak ada perbedaan antara keluarga / orang lain. bila ada kelebihan yang berhak mereka peroleh, maka itu disebabkan karena keberhasilan mereka mendekat kepada allah dan menghiasi diri dengan ilmu serta akhlak mulia.[9]
Pemberian peringatan yang khusus ini adalah sebagian dari pemberian peringatan umum yang untuk itu rasulullah SAW diutus, sbgai firman :

ولتنذ را م القرى ومن حو لها
“ Dan agar kamu memberi peringatan kepada penduduk makkah dan orang orang yang berada diluar lingkungannya” (an’am, 6:92)

لتبشربه المتقين وتنذربه قوما لدا
“… agar kamu dapat member kabar gembira dengan al-qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa dan agar kamu member peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang”.
Didalam hadist dan ayat tersebut terdapat dalil bahwa kedekatan dalam nasab tidak bermanfaat jika jalan yang ditempuh berbeda. Juga terdapat dalil atas pembolehan orang mu’min mengadakan hubugan dengan orang kafir, serta memberinya petunjuk dan nasehat, berdasarkan sabda rasul: “sesungguhnya kalian mempunyai rahim dan aku membasahinya dengan basahnya”.[10]

b.      Asbabun Nuzul
Ketika ayat ke 214 diturunkan, maka rasulullah memulai dakwahnya kepada keluarga serumah, kemudian baru keluarga yang terdekat. Hal ini menyinggung perasaan kaum muslimin, mereka merasa terabaikan. Sehubungan dengan hal itu, maka allah SWT. Menurunkan ayat 215 sebagai perintah untuk memperhatikan kaum muslimin yang lain. (HR.Ibnu Jarir dari Ibnu Juraij).[11]

﴿ روي البخاري ومسلم أنه لما نزلت هذه الايۃ أتي النبي صلى الله عليه وسلم الصفا فصعد عليه ثم نادي : يا صاحباه ! فاجتمع الناس إليه بين رجل يجيء اليه وبين ﺭجل يبعث رسوله. فقال رسول الله صلى ألله عليه وسلم: يا بني لؤي أرآيتم لوأخبرتكم أن خيلا بسفح الجبل تريدأن تغير عليكم أصدقتموني؟ قالوا: نعم. قال "فائني نذيرلكم بين يدي عذاب شديد" فقال أبولهب: تبالك ساءر اليوم! أما دعوتنا إلا لهذا؟ وأنزل الله: تبت يداأبي لهب وتب... ﴾[12]

Ketika allah SWT menurunkan ayat ke 214 maka rasulullah naik kegunung shafa, seraya mengundang: “wahai saudaraku!” sedang beberapa saat berkumpul umat manusia. Beliau bersabda: wahai bani abdul muthalib, bani fikr, bani luayi, adalah kamu sekalian membenarkan manakala aku mengatakan bahwa unta dipegununan ini akan mengubah nasibmu? Jawab “ ya, percaya”. Rasulullah kemudian bersabda lagi: ”maka sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagimu. Dan bila kamu membangkang maka dihadapku ada siksa yang pedih”. Mendengar sabda nabi ini abu lahab langsung tampil berbicara : celaka kamu Muhammad pada hari ini. Adakah kamu sengaja mengumpulkan kami hanya untuk mendengar ocehanmu itu. Maka allah SWT. Menurunkan ayat-ayat yang terkandung dalam surat al-lahab. (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas Imam Bukhari Muslim Tirmidzi & Nasa’i meriwayatkan dari A’masy).[13]

﴿ وأخرج مسلم بإسناده عن عائشة رضي الله عنها قالت: لما نزلت: " وا نذر عشيرتك الأقربين. قام رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا فاطمةابنة محمد وياصفية ابنةعبد المطلب. يابني عبدالمطلب لاأملك لكم من الله شيئا سلوني من مالي ماشئتم ﴾[14]

 Ketika ayat ke 214 diturunkan, maka rasulullah SAW. Langsung berdiri seraya berkata: “wahai Fatimah binti muhammad, shafiyah binti abdul muthalib, bani abdul muthalib, aku tidak memiliki sesuatu apapun dihadapan allah yang dapat menyelamatkanmu. Ambillah hartaku sekehendak hatimu.” Seruan ini membuat kaum muslimin yang lain merasa disolasikan oleh rasulullah dalam dakwah sehubungan itu maka allah menurunkan ayat ke 215 sebagai perintah untuk berdakwah kepada seluruh kaum muslimin. (HR. ahmad dari aisyah).[15]

﴿ وأخرج مسلم والترمذي بإسناده عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: لما نزلت: "وأنذرعشيرتك الأقربين. دعارسول لله صلى لله عليه وسلم قريشا فعم وخص, فقال: يامعشر بني كعب أنقذواأنفسكم من الناس يامعشربني كعب أنقذواأنفسكم من النار. يافطمة بنت محمد أنقذي نفسك من النار فإني والله لاأملك لكم من الله شيئا إلاأن لكم رحما أبلها ببلالها ﴾[16]

Ketika ayat ke 214 diturunkan, rasulullah segera berdakwah kepada keluarga dengan mengatakan :”wahai orang-orang  quraisy selamatkanlah dirimu dari api neraka, wahai orang-orang  bani hasyim selamatkanlah dirimu dari api neraka, wahai orang-orang  bani muthalib selamatkanlah dirimu dari api neraka, wahai Fatimah binti muhammad selamatkanlah dirimu dari api neraka, sebab dihadapan allah aku tidak memiliki apa-apa kecuali dengan kamu hanyalah ikatan keluarga belaka. (HR. ahmad dari abu hurairah imam muslim dan tirmidzi meriwayatkan pula dari abdul malik bin umar).
Pada suatu waktu abu darda berkhutbah dihadapan umat manusia sedangkan anaknya berada disisinya sedangkan kaum keluarganya berada dimasjid sambil bercanda ria. Maka ada seseorang yang mengajukan pertanyaan kepada abu darda bagaimana keadaan manusia yang mencintai ilmu berada disisimu, sementara sanak kerabatmu sendiri bercanda ria? Jawabannya : aku pernah mendengar rasulullah bersabda:” orang yang paling zuhud didunia adalah nabi, dan orang yang paling menentang nabi adalah sanak keluarga.” sehubungan dengan itu maka allah menurunkan ayat ke 214-220 sebagai perintah membina keluarga dan masyarakat dan bila mereka mendurhakai ajaran agama maka itu diluar tanggungjawab rasulullah. (HRibnu asakir dari amrin bin samarrah dari Muhammad bin saaqah dari abdul wahid binti abu bakar as shidiq).[17]
Hadist-hadist menerangkan bagaimana rasulullah menyambut seruan itu dan bagaimana beliau berusaha menyampaikannya kepada kerabatnya yang terdekat. Beliau tidak dapat berbuat apa-apa dalam pembelaan terhadap urusan mereka, dan hanya dapat menyandarkan kepada allah seluruh urusan akhirat mereka. Rasulullah menjelaskan bahwa hubungan kerabat tidak bermanfaat sekali bila tidak diikuti dengan ikut serta dalam amal shaleh. Dijelaskan beliau tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan mereka dari adzab allah, pada hal beliau adalah rasul allah. Inilah islam dan dalam kejelasan dan kemurniannya. Dan ia meniadakan perantara antara hamba dan allah bahkan perantara seorang rasul-nya sekalipun.
Demikianlah allah menerangkan kepada rasul –nya bagaimana seharusnya beliau bermu’amalah dengan orang-orang beriman yang menyambut dakwah yang dibawanya.[18]


BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Ayat diatas berpesan hindarilah segala hal yang dapat mengundang murka allah dan berilah peringatan kepada kerabat kerabatmu yang terdekat tanpa pilih kasih dan Takut takutilah kerabatmu yang terdekat dengan azab dan siksa allah yang keras bagi orang yang kafir kepadanya dan yang menyekutukan-Nya dengan yang lain.
Ayat ini selain menyuruh untuk menghindari kemusyrikan juga mengajarkan kepada rasul SAW dan ummatnya agar tidak mengenal pilih kasih/ memberi kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan. Ini berarti nabi dan keluarga beliau tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari kewajiban. Mereka tidak memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada rasul SAW. karena semua adalah hamba allah, tidak ada perbedaan antara keluarga / orang lain. bila ada kelebihan yang berhak mereka peroleh, maka itu disebabkan karena keberhasilan mereka mendekat kepada allah dan menghiasi diri dengan ilmu serta akhlak mulia.
Demikianlah allah menerangkan kepada rasul –nya bagaimana seharusnya beliau bermu’amalah dengan orang-orang beriman yang menyambut dakwah yang dibawanya.

  1. Saran
Dengan mempelajari tafsir selain bisa mengetahui apa itu tafsir, dan kita bisa mengetahui asbabun nuzul dari subuah ayat pendidikan agar nantinya peserta didik dapat menerapkan ajaran yang terkandung pada Surat as-syu’ara 214 dalam kehidupan sehari-hari, baik itu kepada Allah SWT, kedua orang tua, serta kepada manusia-manusia yang lain.



DAFTAR PUSTAKA
Ø   Qaradhawi, Yusuf. 1999. Berinteraksi Dengan Al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani.
Ø   Quthb, Sayyid. 2008. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Jakarta: Gema Insani.
Ø   Yunus, Mahmud. 2004. Tafsir Qur’an Karim. Jakarta: Hidakarya Agung.
Ø   Mahali, Mudjab. 2002. Asbabun Nuzul Studi mendalami Al-Qur’an. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Ø   Al- Maraghi, Mustafa. 1993. Terjemah Tafsir Al Maraghi. Semarang: Toha Putra.
Ø   Karim, Ussamah Abdul. 2008. Tafsirul Wajiz. Jakarta: Mussasah Darul Faiha.
Ø   Quraish, Shihab. 2006. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.






[1] Yusuf al-qaradhawi, Berinteraksi Dengan Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 1999), hlm 283.
[2] Yusuf al-qaradhawi, Berinteraksi Dengan Al-Qur’an,… hlm 284.
[3] M Quraish Shihab, Tafsir al misbah, (Jakarta: Lentera hati, 2002), hal 149.
[4] Usamah abdul karim, Tafsirul wajiz, (Jakarta: Mussasah Darul Faiqoh, 2008 ), hal 377.
[5] M Quraish Shihab, Tafsir al misbah,... hlm 150
[6] Mustafa Al- Maraghi, Terjemah Tafsir Al Maraghi, (Semarang: Toha Putra, 1993), hlm 205.
[7] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2008),hlm 371.
[8] Mahmud Yunus, Tafsir Qur’an Karim, (Jakarta: Hidakarya Agung, 2004), hlm 553.
[9] M Quraish Shihab, Tafsir al misbah, … hal 152.
[10]  Mustafa Al- Maraghi, Terjemah Tafsir Al Maraghi, … hlm 206.
[11] Mudjab Mahali, Asbabun Nuzul Studi mendalami Al-Qur’an, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm 638.
[12] M Quraish Shihab, Tafsir al misbah, … hal 372.
[13] Mudjab Mahali, Asbabun Nuzul Studi mendalami Al-Qur’an… hlm 638.
[14] M Quraish Shihab, Tafsir al misbah, … hal 372.
[15] Mudjab Mahali, Asbabun Nuzul Studi mendalami Al-Qur’an,… hlm 639.
[16] M Quraish Shihab, Tafsir al misbah, … hal 372.
[17] Mudjab Mahali, Asbabun Nuzul Studi mendalami Al-Qur’an,… hlm 639.
[18] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, … hlm 372.
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Blog Archive

  • ▼  2013 (27)
    • ▼  April (27)
      • makalah Ilmu Komunikasi.
      • makalah sejarah dakwah
      • makalah psikologi
      • makalah hadist
      • makalah komunikasi
      • komunikasi kontemporer
      • makalah ilmu dakwah
      • makalah dakwah abbasiyah
      • makalah bahsul kutub
      • tugas PROSES PENERBITAN PERS (ngliput berita)--> (5)
      • makalah proses penerbitan pers(5)
      • makalah Sistem Informasi Manajemen Dakwah (5)
      • makalah kewirausahaan(5)
      • kewirausahaan (PROPOSAL KERJA) --> (5)
      • makalah hukum dan etika media massa (5)
      • makalah filsafat dakwah --> tantangan dakwah (5)
      • makalah filsafat dakwah - at-tiin (5)
      • makalah Hadist (5)
      • makalah tafsir (4)
      • makalah sosiologi (4)
      • makalah Rijalud Dakwah (4)
      • makalah logika (4)
      • makalah kewarganegaraan (4)
      • makalah filsafat umum (4)
      • makalah psikologi dakwah (3)
      • makalah ushul fiqh (3)
      • makalah tafsir (3)
  • ►  2012 (2)
    • ►  November (2)

Followers

 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com