skip to main | skip to sidebar

risnasari

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Sabtu, 27 April 2013

makalah Rijalud Dakwah (4)

Diposting oleh Unknown di 06.04


KHALIFAH MUTAWAKKIL

BAB I
PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG MASALAH
Pentingnya mempelajari rijalud dakwah ini bagi para da’I, karena sebagai suatu pedoman, dan tolak ukur agar para da’I bisa mencapai suatu keberhasilan dan menyebar luaskan dan meningkatkan mutu Islam itu sendiri. Suatu pesan yang disampaikan, yang mana mendapat respon yang baik dari para mad’u tersebut bila mana seorang da’I mengetahui, memahami dunia dakwah tersebut baik meliputi sosiologi dakwah, psikologu dakwah dan sejarah keda’waan. Berbagai rintangan, hambatan dalam menyampaikan dakwah ini tidak sedikit dari anbiya’. Merasakannya. Seperti halnya nabi Muhammad SAW, begitu halnya masa setelah beliau yakni masa Khulafa’ur rosyidin, bani umayah, mereka tetap melaksanakan dakwah tersebut (menyampaikan Islam keseluruh dunia) dan akhirnya mereka pun berhasil dan pada pembahasan ini, masa setelah Bani Umayah yakni Bani Abbasiah.
Menjadi si tikang-seru, juru Da’wah atau muballighul islam banyak memberikan pengertian, faham dan pegangan. Sepanjang perjalanan menempuh ridho Allah telah memperkaya diri dengan pengalaman, membajakan diri dengan keyakinan, malah mempertajam pemahaman.Menelan pahit getir, menempuh duri dan derita adalah resiko yang telah dijalani dengan hati yang ikhlas oleh seorang rijal al-Dakwah.
Tempo-tempo mendapat pujian dan sanjungan.Tempo-tempo dihempaskan oleh hinaan dan cacian.Kegagalan dan keberhasilan silih berganti. Kegiatan berenang mengarungi dua gelombang, berjuang dan lalu ditengah dua-ufuk dunia yang bertentangan sanjungan dan ejekan, pujaan dan makian tak membuat padam api semangat api sang rijal al-dakwah dalam menegakkan kalimat-kalimat allah. Hanya satu kata bagi seorang rijal al-dakwah yaitu li i’lai kalimatillah.

  1. PEMBATASAN MASALAH
Pembatasan masalah digunakan untuk membatasi masalah yang akan dibahas. Dalam penelitian ini, masalah dibatasi pada metode berdakwah pada zaman bani abbbasiyah (khalifah al mutawakkil)

  1. PERUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini terdapat beberapa penjabaran materi dari latar belakang diatas. Diantaranya yaitu:
1.      Bagaimana kehidupan dakwah dimasa daulah abbasiyah?
2.      Bagaimana setting History seorang khalif al-mutawakkil ?
3.      Bagaimana pendekatan dan model dakwah khalif mutawakkil ?
4.      Bagaimana pemikiran dan respon mad’u ?
5.      Bagaimana problem yang terjadi ?
6.      Bagaimana wafat khalif al-mutawakkil ?

  1. TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.    Untuk mengetahui kehidupan dakwah dimasa daulah abbasiyah
2.    Untuk mengetahui setting History seorang khalif al-mutawakkil
3.    Untuk mengetahui pendekatan dan model dakwah khalif mutawakkil
4.    Untuk mengetahui pemikiran dan respon mad’u
5.    Untuk mengetahui problem yang terjadi
6.    Untuk mengetahui wafat khalif al-mutawakkil





BAB II
PEMBAHASAN

Rijal Secara bahasa arti Rijal adalah tokoh, sedangkan arti al-Tafsir menurut bahasa ialah penjelasan. Jadi, pengertian Rijal al-Tafsir adalah Tokoh-tokoh tafsir .[1]
Dakwah secara harfiah yaitu masdar dari fa’ala (kata kerja) da’a dalam arti ajakan, seruan, panggilan, undangan, do’a dan lainnya.[2] Sedangkan secara terminology yaitu suatu kegiatan untuk menyampaikan dan mengajarkan serta mempraktkkan ajaran islam didalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan menurut M. Abu al-futuh menyampaikan dan menerangkan apa yang telah dibawa oleh nabi.[3]

A.       Kehidupan Dakwah dimasa Daulah Abbasiyah
Daulah abbasiyah adalah daulah yang berdiri dengan tegas diatas panji-panji islam. Selama lima abad perjalanannya, daulah ini menjadi sarana dakwah dan pendukung dakwah islam. Dengan semangat dakwah yang tinggi daulah ini menjadi kerajaan islam yang telah dapat mengubah dunia dari gelap menjadi terang, dari mundur jadi maju.
Dakwah pada masa ini dapat dibagi dalam dua level, yaitu:
a.  Level Negara dan Penguasa
a)    Para khalifah abbasiyah masa keemasan adalah juga seorang ulama’ yang cinta ilmu. Mereka memuliakan ulama’ dan pujangga, serta membuka pintu istana selebar-lebarnya buat mereka. Putra-putra khalifah juga mendapatkan pendidikan khusus tentang agama dan kesusastraan, agar mereka menjadi ulama’dan pujangga.
b)   Mendorong dan memfasilitasi upaya penerjemahan berbagai ilmu dari berbagai bahasa kebahasa arab, seperti filsafat, ilmu kedokteran, ilmu bintang, ilmu pasti, ilmu fisika, ilmu musik, dan lain-lain.
c)    Melakukan perluasan dan pembinaan wilayah dakwah.
d)   Mendorong dan memfasilitasi pembaruan system pendidikan dengan munculnya madrasah nidzamul muluk dan madrasah nidzamiyyah da Baghdad, dari sinilah terlahir ulama’-ulama’ besar.
e)    Setelah cahaya daulah abbasiyah mulai redup secara politis, peran dakwahnya pun menjadi tidak kuat.

b. Level Masyarakat
Meskipun islam pada level Negara menunjukkan kelesuan, tetapi dengan rahmat allah, pada level masyarakat aktifitas keislaman tidak tidur, dan tidak terlalu terpengaruhi oleh kelemahan dan kerusakan yang terjadi dilevel Negara. Barangsiapa menelusuri kitab-kitab thabaqat dan tarajim (kitab yang berisi biografi para ulama’ ) akan menemukan bagaimana aktivitas ilmiah dakwah menjamur dibagdad ketika itu. Masjid- masjid dan sekolah-sekolah penuh dengan kajian ilmiah. Materinya sangat bervariasi diantaranya kajian kitab, membaca al-qur’an, meriwayatkan hadist, mendengarkan ceramah, dan lain-lain. Para ulama’ pada masa ini memiliki peran dan pengaruh yang sangat besar, bahkan kadang-kadang mengalahkan pengaruh para khalifah.
Jika ada khalifah meninggal, tidak banyak orang yang mengantarnya kekuburan, tetapi apabila ulama’ meninggal masyarakat berbondong-bondong mengucapkan bela sungkawa dan mengantarkannya kekuburan. Inilah perbedaan antara penguasa hati dan penguasa dunia.
Masjid-masjid dibaghdad, bahsrah, kufah, dan lainnya dipenuhi para ulama’, penceramah, ahli hadist, dan lainnya. Mereka memilliki pengaruh besar dalam penceramahan imam masyarakat. Materi yang menonjol saat itu adalah tazkiyatun nufus (pembersihan hati), peringatan tentang negeri akhirat, serta seruan agar tidak terbedaya oleh kehidupan dunia. Tampaknya materi-materi seperti ini mencuat kepermukaan sebagai reaksi dari kemewahan dan kemaksiatan yang terjadi dilevel penguasa. Diantara da’I yang terkenal adalah ibnu simak, imam ahmad.
Meskipun ada kelemahan yang nyata dilevel pemimpin dan banyaknya penyimpangan beragama, namun dengan rahmad allah gerakan dakwah berjalan dengan baik.[4]

B.       Setting History Seorang Khalif Al-Mutawakkil
Nama lengkap Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) adalah Al-Mutawakkil Alallah, Ja'far, Abu Al-Fadhl bin Mu'tashim bin Ar-Rasyid. Ibunya seorang mantan budak bernama Syuja'. Al-Mutawakkil lahir pada 205 H. Riwayat lain menyatakan pada 207 H. Ia dilantik sebagai khalifah pada 24 Dzulhijjah 232 H setelah wafatnya Al-Watsiq.
 Khalifah ke-10 bani abbasiyah ini bernama asli emir ja’far dan lengkapnya mutawakkil alallah ja’far abu al fadhl bin mu’tashim bin ar rasyid. Putra dari marhum khalif al mu’tashim, ibuya adalah mantan seorang budak bernama syuja’. Lahir Pada Tahun 205 H. Riwayat lain menyatakan pada 207 H. Ia dilantik sebagai khalifah pada 24 Dzulhijjah 232 H. Diangkat menjadi khalifah pada umur 26 tahun menggantikan khalif  al-watsiq dengan panggilan khalif  al-mutawakkil dari tahun  232-247 H / 847-861 M diwilayah kota samarra, sebelah ibukota bagdad pada pinggir sungai tigris.[5]
C.       Pemikiran dan Respon Mad’u
Khalifah Al-Mutawakkil dalam pemikirannya berbeda dengan paman, bapak, dan saudara-saudaranya. Ia bersikap memusuhi aliran iktizal. Al mutawakkil juga berbeda dengan al watshiq yang berpaham lapang. Ia seorang khalif yang amat sangat ortodoks dan otoriter. Sebab kenapa al-mutawakkil ingin menghapus aliran I’tizal adalah bahwa beliau sendiri tidak menyukai dan juga tidak berselera terhadap pemikiran pemikiran yang kritis.[6] Sewaktu al mutawakkil menjadi khalifah, hal pertama yang dilakukannya adalah membebaskan imam ahmad ibn hambal dari tahanannya, yang sebelumnya ditahan oleh khalif al watshiq karena kritik-kritikannya yang sangat keras terhadap khalif. Tindakan al mutawakkil disambut hangat oleh kalangan sunni terutama kalangan hadist (al-muhaddistin) yang ingin memurnikan tauhid itu kembali kedalam bentuk kesederhanaannya tanpa pembahasan-pembahasan yang logis dan rasionil (al-manthiqi).[7]
Dikarenakan dekrit-dekrit yang dikeluarkan oleh khalifah al-mutawakkil tidak memihak pada rakyat non muslim, serta dekrit itu pun membangkitkan reaksi dan ketegangan yang cukup besar. Maka para penganut mazdaism (agama majusi) mengungsi menuju anak benua india dan kemudian menetap pada wilayah bombai dan sekarang lebih dikenal sebagai kaum parsees, yaitu kelompok masyarakat yang terbilang cerdas dan termaju disitu menjelang kemerdekaan india dan aktif dalam kemerdekaan india.

D.       Pendekatan, Sarana dan Model Dakwah Khalif Mutawakkil
Pendekatan yang dilakukan khalif al-mutawakkil yaitu
a.    pendekatan struktural
Al-mutawakkil diangkat menjadi khalifah dan bearti berkuasa penuh atas semuanya. Misalnya:
a)    menghapus aliran iktizal dan Memurnikan aliran sunni
aliran I’tizal / mu’tazilah yaitu aliran yang menggunakan pemikiran yang rasional dan kritis. Kaum I’tizal  berfikir kalau alqur’an itu adalah makhluk/ciptaan. Sedangkan aliran sunni/ahlussunnah waljama’ah adalah aliran yang lebih condong ke ajaran tauhid seperti pada masa rasul (tidak menggunakan rasio). Misalnya: zaman dulu semisal nabi berkata bahwa allah itu tinggal diars, maka semua umat akan percaya dan tidak aka nada keraguan baginya, berbeda dengan aliran iktizal yang harus memerlukan pemahaman yang rasional untuk menjelaskan itu semua.
b)   mendirikan gedung gedung yang megah dan indah disepanjang sungai tigris sehingga kota benteng samarra terlihat sangat mewah.
c)    Mewajibkan kepada setiap orang non islam baik di ibukota maupun pada seluruh wilayah islam masa itu untuk memakai pakaian atau tanda pengenal yang mengisyaratkan bahwa mereka adalah orang non muslim. Itu dilakukan karena sebagai identitas bahwa orang non muslim tidak akan dikenakan pajak.
d)   Menghancurkan dan meratakan seluruh bangunan-bangunan suci monumen yang sangat dimuliakan kaum syi’ah dan menjadi tempat ziarah mereka itu. Kemudian dibajak dan ditanami.[8]
b.    pendekatan persahabatan
dalam missinya untuk memberantas aliran I’tizal (muktazilah), awalnya mereka diundang untuk berpesta tetapi pada akhirnya mereka dibunuh dengan kejinya secara missal.
Beberapa sarana yang dibangun oleh khalif al-mutawakkil. Diantaranya:
·         Membangun gedung-gedung yang mewah disepanjang sungai tigris disamarra.
·         Membangun istana didariya, damaskus
·         Memperbaiki gedung-gedung yang hancur akibat gempa bumi yang sering melanda kota syiria, parsi, dan khurasan
Problem yang timbut selama pemerintahan khalif al-mutawakkil kebanyakan dikarenakan sikapnya sendiri. Dan didalam pemerintahannya yang panjang hanya 2-3 perusuhan yang agak besar, akan tetapi bias diatasi. Cuma pada massanya itu sering terjadi gempa bumi melanda kota syiria, parsi, dan khurasan, dan yaman. Yang menghancurkan beberapa bangunan-bangunan kota dan menelan banyak korban. Dan berhasil dibangun kembali.

E.       Perkembangan Ilmu
Khalifah Al-Mutawakkil hidup sezaman dengan Abu Tsaur, Imam Ahmad bin Hanbal, Ibrahim bin Al-Munzhir Al-Hizami, Ishaq Al-Muhsil An-Nadim, Abdul Malik bin Habib (salah seorang imam dari kalangan mazhab Maliki), Abdul Azis bin Yahya Al-Ghul (salah seorang murid terbesar Imam Syafi'i), Abu Utsman bin Manzini (pakar ilmu nahwu), dan Ibnu Kullab, seorang tokoh ilmu kalam.[9]
§  Terlahirnya ahli matematik, astronomi yang menyusun table-table astronomi dan menciptakan aljabar, sehingga menjadi ilmu  yang  teratur  dan juga memperkenalkan angka2 arab kepada dunia.
§  Membangun aliran filsafat didalam sejarah islam, yaitu al-kindi (abu yusuf ya’kub)
§  Muncul aliran kebatinan (mistik).
F.        Wafat Khalif Al-Mutawakkil
Khalifah al-mutawakkil secara tidak langsung telah dibunuh oleh anaknya sendiri yaitu Muhammad al mutashir billah, pada tahun 247 H / 861 M disebabkan karena khalif al-mutawakkil lebih memperlihatkan kecenderungannya kepada anak ke-duanya (Muhammad mu’tazz billah) untuki menggantikannya sebagai khalifah.
Al muntashir menyuruh seorang sahaya turki bernama baghira untuk membunuh khalifah al-mutawakkil ayahnya sendiri. Pada malam itu juga terjadi pembunuhan terhadap wazir besar al fatah ibnu khankhan.[10]
Khalifah Al-Mutawakkil sangat mencintai istrinya yang bernama Qabihah yang tak lain adalah ibu dari anaknya, Al-Mu'taz. Sebagaimana biasa, sudah menjadi tradisi dalam Bani Abbasiyah untuk mempersiapkan pengganti mereka sebagai khalifah, Al-Mutawakkil melantik anaknya, Al-Muntashir kemudian Al-Mu'taz lalu Al-Muayyad menjadi khalifah setelah ia wafat kelak. Namun kemudian Al-Mutawakkil berubah pikiran dan lebih mengutamakan Al-Mu'taz karena kecintaannya kepada ibunya. Inilah sebabnya Muhammad al mutashir billah merencanakan pembunuhan kepada ayahnya.[11]
Setelah kejadian pembunuhan tersebut malam itu juga al-muntashir membangunkan serta mengumpulkan segenap pembesar, panglima, perwira, dan tokoh-tokoh terkemuka di ibukota samarra di istana khalif dan dikabari bahwa al-mutawakkil telah dibunuh oleh ibnu khankhan seorang wazir besar al fatah. Tetapi pembunuh itu ketahuan dan telah dibunuh. Tokoh tokoh sunni sangat marah sekali ketika mendengar kabar tersebut, tetapi mereka bersyukur karena si pembunuh berhasil ditangkap dan dibunuh pula. [12]
Al- mutawakkil meninggal pada usia 40 tahun dan masa pemerintahannya sekitar 14 tahun 9 bulan[13]


BAB III
PENUTUP

  1. KESIMPULAN
Daulah abbasiyah adalah daulah yang berdiri dengan tegas diatas panji-panji islam. Selama lima abad perjalanannya, daulah ini menjadi sarana dakwah dan pendukung dakwah islam.
Khalifah Al-Mutawakkil dalam pemikirannya berbeda dengan paman, bapak, dan saudara-saudaranya. Ia bersikap memusuhi aliran iktizal. Al mutawakkil juga berbeda dengan al watshiq yang berpaham lapang. Ia seorang khalif yang amat sangat ortodoks dan otoriter. Sebab kenapa al-mutawakkil ingin menghapus aliran I’tizal adalah bahwa beliau sendiri tidak menyukai dan juga tidak berselera terhadap pemikiran pemikiran yang kritis. Tindakan al mutawakkil disambut hangat oleh kalangan sunni terutama kalangan hadist (al-muhaddistin) yang ingin memurnikan tauhid itu kembali kedalam bentuk kesederhanaannya tanpa pembahasan-pembahasan yang logis dan rasionil (al-manthiqi).
Al mutawakkil dibunuh oleh Al muntashir. Ia  menyuruh seorang sahaya turki bernama baghira untuk membunuh khalifah al-mutawakkil ayahnya sendiri. Pada malam itu juga terjadi pembunuhan terhadap wazir besar al fatah ibnu khankhan.
  1. SARAN
Dengan mempelajari Rijalud Dakwah selain bisa mengetahui riwayat-riwayat kehidupan pemimpin maupun para ulama’ dari masa kemasa, juga bisa mengetahui bagaimana seorang khalifah mutawakkil. Itu merupakan cara yang baik dalam proses belajar. Oleh karena itu sebagai kaum pelajar kita harus mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pelajar adalah masyarakan yang terpelajar. Yang dianggap sebagai kaum pelajar, karena mereka telah mengetahui tentang dakwah dari khalifah al-mutawakkil.

DAFTAR PUSTAKA

v  Ilaihi, Wahyu. Hefni,Harjani. 2007. Pengantar Sejarah Dakwah. Jakarta: Rahmad Semesta.
v  Sou’yb, Joesoef. 1977. Sejarah Daulat Abbasiyah. Jakarta: Bulan Bintang.
v  Syabibi, Ridha. 2008. Metodologi Ilmu Dakwah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
v  Faizah. Efendi, Muhsi. 2009. Psikologi Dakwah. Jakarta: Kencana Prenada Media.
v  http://eling-buchoriahmad12.blogspot.com/2011/06/rijal-at-tafasir.html
v  http://islamtangguh.blogspot.com/2011/05/daulah-abbasiyah-al-mutawakkil-khalifah.html


[1] http://eling-buchoriahmad12.blogspot.com/2011/06/rijal-at-tafasir.html
[2] M.Ridha Syabibi, Metodologi Ilmu Dakwah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm 42.
[3] Faizah dan Muhsin Efendi, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), hlm 07.
[4] Wahyu Ilaihi & harjani hefni, Pengantar Sejarah Dakwah, (Jakarta: Rahmat Semesta, 2007), hlm 120-122
[5] Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiah, (Jakarta: Bulan Bintang:, 1977), hlm 7.
[6] Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiah… hlm 11
[7] Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiah… hlm 10
[8] Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiah… hlm 14
[9] http://islamtangguh.blogspot.com/2011/05/daulah-abbasiyah-al-mutawakkil-khalifah.html
[10] Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiah… hlm 22
[11] http://islamtangguh.blogspot.com/2011/05/daulah-abbasiyah-al-mutawakkil-khalifah.html
[12] Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiah… hlm 32
[13] Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiah… hlm 7
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

1 komentar:

akhy mengatakan...


thanks for your help so they can help me I took his little friend ...........

9 April 2015 pukul 17.20

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Blog Archive

  • ▼  2013 (27)
    • ▼  April (27)
      • makalah Ilmu Komunikasi.
      • makalah sejarah dakwah
      • makalah psikologi
      • makalah hadist
      • makalah komunikasi
      • komunikasi kontemporer
      • makalah ilmu dakwah
      • makalah dakwah abbasiyah
      • makalah bahsul kutub
      • tugas PROSES PENERBITAN PERS (ngliput berita)--> (5)
      • makalah proses penerbitan pers(5)
      • makalah Sistem Informasi Manajemen Dakwah (5)
      • makalah kewirausahaan(5)
      • kewirausahaan (PROPOSAL KERJA) --> (5)
      • makalah hukum dan etika media massa (5)
      • makalah filsafat dakwah --> tantangan dakwah (5)
      • makalah filsafat dakwah - at-tiin (5)
      • makalah Hadist (5)
      • makalah tafsir (4)
      • makalah sosiologi (4)
      • makalah Rijalud Dakwah (4)
      • makalah logika (4)
      • makalah kewarganegaraan (4)
      • makalah filsafat umum (4)
      • makalah psikologi dakwah (3)
      • makalah ushul fiqh (3)
      • makalah tafsir (3)
  • ►  2012 (2)
    • ►  November (2)

Followers

 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com