skip to main | skip to sidebar

risnasari

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Sabtu, 27 April 2013

makalah psikologi dakwah (3)

Diposting oleh Unknown di 05.20


Peluang keberhasilan dakwah dan dakwah persuasif

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Psikologi dalam disiplin ilmu sering disebut dengan ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku lahiriah manusia dengan menggunakan metode observasi secara obyektif, seperti terhadap rangsang dan jawaban yang menimbulkaan tingkah laku. Dan yang dimaksud dengan dakwah yaitu mengajak manusia kejalan Allah agar mereka bahagia didunia dan di akhirat.
Dalam berdakwah sangat diperlukan psikologi untuk mengetahui keadaan mad’u dan bisa mengerti tingkah laku mad’u itu sendiri. Selain itu keberhasilan  seorang da’I dalam menyampaikan dakwahnya tergantung pada respon mad’u untuk memenuhi ajakan sang da’i.
Salah satu pusat perhatian psikologi dakwah adalah bagamana dakwah itu bisa disampaikan secara persuasif. efektifitas suatu kegiatan dakwah memang berhubungan dengan bagaimana mengkomunikasikan  pesan dakwah itu kepada mad’u, persuasive atau tidak. Secara psikologis, bahasa mempunyai peran yang sangat besar dalam mengendalikan perilaku manusia. Bahasa ibarat remot control yang dapat menyetel manusia menjadi tertawa, marah, sedih, lunglai, semangat, dan sebagainya. Bahasa juga dapat digunakan untuk memasukkan gagasan-gagasan baru kedalam pikiran manusia. Sebagai pesan, bahasa juga ada psikologinya, misalnya cara berkata seseorang, isyarat tertentu, struktur bahasa yang digunakan dan sebagainya, dapat memberikan maksud tertentu kepada lawan bicara. Jadi, dengan memperhatikan psikologi pesan, bahasa dapat digunakan oleh da’I untuk mengatur, menggerakkan dan mengendalikan perilaku masyarakat.
Pembatasan masalah digunakan untuk membatasi masalah yang akan dibahas. Dalam penelitian ini, masalah dibatasi pada hal yang berkaitan dengan dakwah persuasif yaitu tentang peluangakeberhasilan dakwah, unsure-unsur pembentuk persuasive, dan meteri dakwah persuasive.


B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas kami dapat mengambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Kemungkinan apa saja yang menjadi keberhasilan dakwah?
2.      Apa saja unsur-unsur pembentuk persuasive?
3.      Apa saja materi dakwah persuasive?

C.    Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahi tentang peluang dakwah.
2.      Untuk mengetahui unsur-unsur pembentuk persuasive.
3.       mengetahui materi dakwah persuasive.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Psikologi Dakwah
Secara sederhana Psikologi sering disebut sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang merupakan gejala dari jiwanya.[1] Sedangkan definisi yang lebih terperinci menyebutkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku lahiriah manusia dengan menggunakan metode observasisecara obyektif, seperti terhadap rangsang (stimulus) dan jaaban (respon) yang menimbulkan tingkah laku.
Dari definisi tersebut menegaskan bahwa kegunaan psikologi tersebut hanya untuk menguraikan atau mengungkap apa yang ada dibalik tingkah laku manusia.dalam keadaan tertentu, kebutuhan seseorang memang dapat saja terbatas hanya ingin mengetahui factor kejiwaan apa yang menyebabkan tingkah laku tertentu orang lain, tapi disaat yang lain, misalnya bagi seorang sedang merencanakan suatu kegiatan yang melibatkan banyak orang di mana banyak kemungkinan yang bisa terjadi, maka psikologi dapat  membantunya meramalkan kira-kira tingkah laku apa yang akan dilakukan oleh sebagian atau keseluruhan dari orang-orang yang diamatinya.

B.     Peluang Keberhasilan Dakwah
Keberhasilan suatu dakwah dimungkinkan oleh berbagai hal:
1.      Pesan dakwah yang disampaikan oleh da’I memang relevan dengan kebutuhan masyarakat, yang merupakan suatu keniscayaan yang tidak mungkin ditolak, sehingga mereka menerima pesan mesan dakwah itu dengan antusias.
2.      Factor personal da’I, yakni da’I tersebut memilki daya tarik personal yang menyebabkan masyarakat mudah menerima pesan dakwahnya, meski kualitas dakwahnya boleh jadi sederhana saja.
3.      Kondisi psikologi masyarakat yang sedang haus siraman rohani, dan mereka terlanjur memiliki persepsi positif kepada setiap da’I, sehingga pesan dakwah yang sebenarnya kurang jelas ditafsirkan sendiri oleh masyarakat dengan penafsiran yang jelas.
4.      Kemasan dakwah yang menarik. Masyarakat yang semula acuh terhadap agama dan juga terhadap da’I setelah melihat paket dakwah yang diberi kemasan lain (misalnya kesenian, stimulasi, atau dalam program-program pengembangan masyarakat) maka paket dakwah itu berhasil menjadi stimulasi yang menggelitik persepsi masyarakat, dan akhirnya mereka merespon secara positif. 

C.    Unsur-Unsur Pembentuk Persuasif
Kondisi psikologis mad’u yang berbeda-beda menyebankan tingkat pendekatan persuasive dalam berdakwah juga berbeda-beda, namun untuk mencapai dakwah yang persuasive jelas ada unsure-unsur yang mendukungnya.
Unsur-unsur yang mempengaruhi suatu dakwah itu bisa dikatakan persuasive ataupun tidak adalah sebagai berikut:
1.      Pribadi da’i
2.      Materi dakwah
3.      Kondisi psikologi mad’u
4.      Korelasi antara ketiga unsure tersebut (Pribadi da’I, Materi dakwah, Kondisi psikologi mad’u).
Untuk membuat dakwah itu persuasif, pertama-tamaseorang da’I harus memiliki kreteria-kriteria yang dipandang positif oleh massyarakat, criteria tersebut antara lain:
a.    Memiliki kualifikasi akademis tentang Islam.
Dalam hal ini da’i sekurang-kurangnya memiliki pengetahuan tentang Al-qur’an dan Al-Hadits, bawa al-qur’an memiliki fungsi sebagai petuntuk hidup (hudan), nasihat bagi yang membutuhkan (mau’idzah) dan pelajaran (‘ibratan), yang oleh karena itu selalu menjadi rujukan dalam menghadapi segala macam persoalan.
b.    Memiliki konsistensi antara amal dan ilmunya.
Seorang da’i sekurang-kurangnya harus mengamalkan apa yang ia serukan kepada orang lain.
c.    Santun dan lapang dada.
Sifat santun (al-hilm) dan lapang dada yang dimiliki seseorang merupakan indikator dari kekuasaan ilmunya, dan secara khusus kemampuannya mengendalikan akalnya (ilmu-ilmunya) dalam praktik kehidupan.


d.   Bersifat pemberani.
Dalam tingkatan tertentu seorang da’i adalah pemimpin masyarakat.
e.    Tidak mengharap pemberian orang (iffah).
‘iffah artinya hatinya bersih dari pengharapan terhadap apa yang ada pada orang lain.
f.Qonah (kaya hati)
Da’i adalah pejuang, dan watk pejuang adalah tabah dalam menghadapi berbagai kesulitan. Salah satu problem kehidupan adalah miskin harta. Da’i yang merasa dirinya miskin biasanya mengidap penyakit rendah hati dan tidak pecaya diri.
g.    Kemampuan berkomunikasi.
Dakwah adalah mengkomunikasikan pesan kepada mad’u. Komunikasi dapat dilakukan dengan lisan, tulisan atau perbuatan, dengan bahasa kata-kata atau dengan bahasa perbuatan (bilisan al maqal wa bilisan al hal).
h.    Memiliki ilmu bantu yang relevan.
Untuk menjadikan pesan dakwah itu sampai kepada mad’u tepat waktu dan sasaran, seorang da’i harus memiliki pengetahuan yang memadahi tentang semua hal yang berhubungan dengan masyarakat mad’u.
i.  Memiliki rasa percaya diri dan rendah hati.
Seorang da’i harus memiliki rasa percaya diri, yakni bahwa selama dakwahnya dilandasi oleh keikhlasan dan dijalankan dengan memakai perhitungan yang benar dan mengharap ridlo Allah, Insysa Allah akan membawa manfa’at.
j. Tidak kikir ilmu (khitman al- ilm).
Sejalan dengan sifat kejuangan dan perumpamaan da’i sebagai matahari, seorang da’i dengan senang hati akan menjajakan ilmunya kepada orang yang mau maupun yang tidak mau.
k.    Anggun.
Betapapun seorang da’i harus aktip bekerja dan berbicara, tetapi keanggunan kepribadiannya harus tetap dijaga.
l. Selera tinggi.
Selera tinggi juga dapat menunjang keanggunan. Seorang da’i yang berselera tinggi artinya ia tidak merasa puas dengan hasil kerja yang tidak sempurna


m.  Sabar.
Mengajak manusia kepada kebajikan bukanlah pekerjaan yang mudah. Semua Nabi dan Rasul dalam menjalankan tugas risalahnya selalu berhadapan dengan berhambatan dan kesulitan.
n.    Memiliki nilai lebih.
Manusia cenderung tertarik kepada orang yang memiliki kelebihan dalm bidang apapun. Seorang da’i yang juga berperan sebagai pemimpin haruslah memiliki nilai lebih atau nilaiplus dibanding orang lain yamg dipimpin.

D.    Materi Dakwah Persuasif
Secara psikologis, bahasa mempunyai peran yang sangat besar dalam mengendalikan perilaku manusia. Bahasa ibarat remot control yang dapat menyetel manusia menjadi tertawa, marah, sedih, lunglai, semangat, dan sebagainya. Bahasa juga dapat digunakan untuk memasukkan gagasan-gagasan baru kedalam pikiran manusia.
Sebagai pesan, bahasa juga ada psikologinya, misalnya cara berkata seseorang, isyarat tertentu, struktur bahasa yang digunakan dan sebagainya, dapat memberikan maksud tertentu kepada lawan bicara. Jadi, dengan memperhatikan psikologi pesan, bahasa dapat digunakan oleh da’I untuk mengatur, menggerakkan dan mengendalikan perilaku masyarakat.
Al-qur’an memeberikan istilah-istilah pesan yang persuasive dengan kalimat “qaulan layyina, qaulan ma’rifah, qaulan baligha, qaulan sadida, qaulan karima, qaulan maisura, qaulan tsaqilan, dan qaulan ‘adzima.”
1.      Qaulan layyina (perkataan yang lemah lembut)
Menurut Asfihani dalam Mu’jam-nya,[2] qaulan layyina mengandung arti lawan dari kasar, yakni halus dan lembut. Pada dasarnya halus dan lembut itu dipergunakan untuk mensifati benda oleh indera peraba, tetapi kata-kata ini kemudian dipinjam untuk menyebut sifat-sifat akhlak dan arti-arti yang lain. Jadi dakwah yang lemah lembut adalah dakwah yang dirasakan oleh mad’u sebagai sentuhan yang halus tanpa mengusik atau menyentuh kepekaan perasaannya sehingga tidak menimbulkan gangguan pikiran dan perasaan.


2.       Qaulan Baligha (perkataan yang membekas pada jiwa)
Menurut Ishfihani dalam Mu’jam-nya,[3] perkataan yang baligh (membekas atau tajam) mempunyai dua arti:
a)    Suatu perkataan dianggap baligh manakala berkumpul pada tiga sifat, yaitu memiliki kebenaran dari sudut bahasa, mempunyai kesesuaian dengan apa yang dimaksudkan dan mengandung kebenaran secara subtansial.
b)   Suatu perkataan dinilai baligh jika perkataan itu membuat lawan bicaranya terpaksa mempersepsi perkataan itu sama dengan apa yang dimaksudkan oleh pembicara, sehingga tidak ada celah untuk mengalihkan perhatian kepermasalahan lain.
3.      Qaulan Sadida (perkataan yang benar)
Term qaulan sadida, menurut ibn Manshur dalam lisan al-a’rabnya kata sadid diyang dihubungkan dengan qaul (perkataan) mengandung arti mengenai sasaran (yusib al-qashda). Jadi pesan dakwah yang secara psikologis menyentuh hati mad’u  siapa pun mad’unya, adalah jika materi yang disampaikan itu benar, baik darin segi bahasa atau pun logika, dan disampaikan dengan pijakan takwa.
4.       Qaulan Karima (perkataan yang mulia)
Dalam perspektif dakwah, qaulan karima diperlukan jika dakwah itu ditujukan kepada kelompok orang yang sudah masuk kategori usia lanjut. Psikologi orang usia lanjut biasanya sangat peka terhadap kata-kata yang bersifat menggurui, menyalahkan apalagi yang kasar, karena meeka merasa lebih banyak pengalaman hidupnya, dan merasa dalam kondisi telah banyak kehilangan kekuatan fisiknya. Oleh karena itu, untuk menjadikan pesan dakwah kepada orang tua itu persuasif, haruslah disampaikan dengan perkataan yang mulia.
5.      Qaulan maisura (perkataan yang ringan)
Kalimat Maisura berasal dari kata yasr, yang artinya mudah. Qaulan Maisura adalah perkataan yang mudah diterima, yang ringan, yang pantas, yang tidak berliku-liku. Dakwah dengan qaulan maisura artinya pesan yang disampaikan itu sederhana, mudah dimengerti dan dapat difahami secara spontan tanpa harus berfikir dua kali.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Jadi Secara sederhana Psikologi sering disebut sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang merupakan gejala dari jiwanya. Dari definisi tersebut menegaskan bahwa kegunaan psikologi tersebut hanya untuk menguraikan atau mengungkap apa yang ada dibalik tingkah laku manusia.dalam keadaan tertentu,
Salah satu Keberhasilan suatu dakwah adalah Pesan dakwah yang disampaikan oleh da’I memang relevan dengan kebutuhan masyarakat, yang merupakan suatu keniscayaan yang tidak mungkin ditolak, sehingga mereka menerima pesan mesan dakwah itu dengan antusias. Secara psikologis, bahasa mempunyai peran yang sangat besar dalam mengendalikan perilaku manusia. Bahasa ibarat remot control yang dapat menyetel manusia menjadi tertawa, marah, sedih, lunglai, semangat, dan sebagainya. Bahasa juga dapat digunakan untuk memasukkan gagasan-gagasan baru kedalam pikiran manusia.
Dan sebagai pesan, bahasa juga ada psikologinya, misalnya cara berkata seseorang, isyarat tertentu, struktur bahasa yang digunakan dan sebagainya, dapat memberikan maksud tertentu kepada lawan bicara. Jadi, dengan memperhatikan psikologi pesan, bahasa dapat digunakan oleh da’I untuk mengatur, menggerakkan dan mengendalikan perilaku masyarakat.

B.     Saran
Dengan mempelajari psikologi selain bisa mengetahui gangguan-gangguan kejiwaan yang ringan maupun yang berat. Peluang keberhasilan dakwah dan dakwah persuasif merupakan cara yang baik dalam proses belajar. Oleh karena itu sebagai kaum pelajar kita harus mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari.Pelajar adalah masyarakan yang terpelajar. Yang dianggap sebagai kaum pelajar, karena mereka telah mengetahui apa itu berpikir dan mengingat.




DAFTAR PUSTAKA

Ø Mubarok, Ahmad. 1997. Psikologi Dakwak. Jakarta: Pustaka Firdaus
Ø Arifin, HM. 1991. Psikologi Dakwah, Suatu Pengantar Studi. Jakarta: Bumi aksara


[1] Berbagai definisi tentang psikologi dakwah dapat dilihat pada, Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, dan W.G. Gerungan, Psikologi Sosial
[2] Ibid, hal. 457
[3] Al- Raghib al-Ishfihani, Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, hal. 60-61
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

2 komentar:

Yusuf mengatakan...

i like it

6 November 2014 pukul 07.10
Yusuf mengatakan...

i like it

6 November 2014 pukul 07.18

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Blog Archive

  • ▼  2013 (27)
    • ▼  April (27)
      • makalah Ilmu Komunikasi.
      • makalah sejarah dakwah
      • makalah psikologi
      • makalah hadist
      • makalah komunikasi
      • komunikasi kontemporer
      • makalah ilmu dakwah
      • makalah dakwah abbasiyah
      • makalah bahsul kutub
      • tugas PROSES PENERBITAN PERS (ngliput berita)--> (5)
      • makalah proses penerbitan pers(5)
      • makalah Sistem Informasi Manajemen Dakwah (5)
      • makalah kewirausahaan(5)
      • kewirausahaan (PROPOSAL KERJA) --> (5)
      • makalah hukum dan etika media massa (5)
      • makalah filsafat dakwah --> tantangan dakwah (5)
      • makalah filsafat dakwah - at-tiin (5)
      • makalah Hadist (5)
      • makalah tafsir (4)
      • makalah sosiologi (4)
      • makalah Rijalud Dakwah (4)
      • makalah logika (4)
      • makalah kewarganegaraan (4)
      • makalah filsafat umum (4)
      • makalah psikologi dakwah (3)
      • makalah ushul fiqh (3)
      • makalah tafsir (3)
  • ►  2012 (2)
    • ►  November (2)

Followers

 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com